IPPNU Tulungagung Gelar HERMOVE: Antara Ruang Pemberdayaan dan Romantisme Kartini

Tulungagung, Mataraman.net – Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Tulungagung kembali menggelar program rutin Hermove (Her Voice–Her Growth–Her Impact), Kamis (30/4/2026) di Griyo Semar Mesem. Kegiatan yang dilaksanakan setiap dua bulan sekali itu sebagai bentuk komitmen organisasi dalam membangun ruang belajar bagi perempuan muda.

Ketua PC IPPNU Tulungagung, Nanda Oktavia Anggraeni, dalam sambutannya menekankan pentingnya konsistensi ruang pemberdayaan yang berkeberlanjutan. Namun demikian, konsistensi program perlu diiringi dengan evaluasi kritis—apakah ruang-ruang ini benar-benar menghasilkan transformasi, atau hanya menjadi rutinitas organisasi yang repetitif.

Ia bangga partisipasi anggota IPPNU dan PKPT se-Kabupaten Tulungagung menunjukkan antusiasme yang cukup baik.

Baca Juga :  Pasokan Beras Dipastikan Aman Hingga Akhir 2024

“Fasilitas seperti alat rajut gratis hingga konsumsi memang mendukung kenyamanan peserta, tetapi indikator keberhasilan tidak seharusnya berhenti pada partisipasi dan kepuasan sesaat,” jelasnya.

Momentum Hari Kartini kali ini, lanjut Nanda, dipilih sebagai latar simbolik dengan tema “Merajut Asa – Mengukir Karya”. Namun, sebagaimana sering terjadi, peringatan Kartini kerap terjebak dalam romantisme simbolik ketimbang menjadi ruang refleksi kritis atas kondisi riil perempuan hari ini—terutama dalam konteks akses, kemandirian ekonomi, dan posisi tawar sosial.

Nanda lebih lanjut menyampaikan sebagai program berkelanjutan, Hermove sebagai wadah pengembangan diri bagi pelajar putri NU melalui kegiatan inspiratif dan aplikatif. Namun ia menyadari, ada pertanyaan apakah program semacam ini benar-benar mampu melampaui level seremonial dan menjangkau persoalan struktural yang dihadapi perempuan muda, atau justru berhenti pada penguatan soft skill yang bersifat individual.

Baca Juga :  Pjs Bupati Trenggalek Maknai Hari Santri: Langkah Bersama Menuju Kesejahteraan

Workshop merajut dan sesi berbagi pengalaman menjadi inti kegiatan. Tarina Elsanti Santosa, seorang wirausaha kerajinan tangan, menghadirkan perspektif kewirausahaan berbasis keterampilan. Pernyataannya tentang pentingnya mencoba dan kesabaran dalam merajut memang relevan, tetapi juga mengindikasikan pendekatan pemberdayaan yang masih bertumpu pada sektor informal dan domestik—sebuah pola lama yang kerap dilekatkan pada perempuan.

Salah seorang peserta mengaku merasa lebih percaya diri dengan mengikuti kegiatan ini. Ia berharap dari ketrampilan yang didapat akan menemukan  eluang konkret: akses ekonomi, jaringan, hingga keberlanjutan karya.

Ia pun mengapresiasi kegiatan Hermove adalah sebagai ruang alternatif bagi perempuan muda untuk belajar dan bertumbuh. Tetapi, di tengah kompleksitas tantangan perempuan hari ini, program semacam ini dituntut untuk bergerak lebih jauh—tidak hanya merajut benang, tetapi juga merajut kesadaran kritis, kemandirian struktural, dan keberanian untuk menembus batas-batas lama yang masih mengikat. (sna/red)

Baca Juga :  Ini Curhatan Cerdas Bupati Trenggalek di Rapat Diseminasi Badan Urusan Lesgislasi Daerah DPD RI

 

 

Berita Terkait

Berita Terbaru

PMII Rayon Sufi Jalaluddin Rumi UIN Tulungagung Gelar Forum Dialektika, Bahas Etika Negara Ideal Al-Farabi

Tulungagung, Mataraman.net - PMII Rayon Sufi Jalaluddin Rumi UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung kembali menghidupkan tradisi intelektual melalui forum “Dialektika: Dialog Intelektual Etika dan...