Tulungagung, Mataraman.net – PMII Rayon Sufi Jalaluddin Rumi UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung kembali menghidupkan tradisi intelektual melalui forum “Dialektika: Dialog Intelektual Etika dan Logika” yang digelar Jumat (1/5/2026) malam di Rumah Sufi.
Mengusung tema “Etika dan Negara Ideal Al-Farabi”, forum ini menjadi ruang refleksi kritis kader dalam membaca relasi antara etika, kepemimpinan, dan praktik kenegaraan.
Kegiatan yang dimulai pukul 19.00 WIB ini merupakan agenda rutin rayon dalam membangun kultur diskusi yang progresif. Ketua rayon menegaskan bahwa forum dialektika bukan sekadar ajang tukar gagasan, melainkan proses pembentukan nalar kritis kader agar tetap berpijak pada dimensi etis dalam membaca realitas sosial-politik.
“Dialektika adalah ruang kaderisasi intelektual. Kita ingin kader tidak hanya paham teori, tetapi mampu mengaitkan dengan kondisi nyata yang dihadapi masyarakat hari ini,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, Sahabat Krisna Wahyu Yanuar tampil sebagai pemantik dengan mengelaborasi secara mendalam pemikiran filsuf Muslim klasik, Al-Farabi, khususnya dalam karya Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadhilah. Ia menekankan bahwa konsep negara ideal Al-Farabi berangkat dari asumsi dasar bahwa manusia adalah makhluk sosial yang hanya dapat mencapai kesempurnaan melalui kehidupan kolektif yang berorientasi pada kebahagiaan sejati (al-sa‘ādah).
Menurut Krisna, negara dalam perspektif Al-Farabi bukan sekadar instrumen kekuasaan, melainkan proyek etis yang bertujuan membimbing manusia menuju kesempurnaan moral dan intelektual. Ia menegaskan bahwa kebahagiaan yang dimaksud bukan bersifat material, tetapi merupakan kesempurnaan jiwa yang dicapai melalui pengetahuan dan kebajikan.
Lebih lanjut, ia menggarisbawahi pentingnya figur pemimpin dalam struktur negara ideal. Dalam pandangan Al-Farabi, pemimpin bukan hanya administrator politik, tetapi juga sosok dengan kesempurnaan intelektual dan moral yang mampu menjadi pembimbing masyarakat. Konsep ini dikenal sebagai perpaduan antara filsuf dan pemimpin, yang memiliki legitimasi berbasis pengetahuan dan kebajikan, bukan sekadar kekuasaan.
“Problem politik hari ini bukan hanya soal sistem, tetapi krisis etika kepemimpinan. Al-Farabi mengingatkan bahwa tanpa dasar moral, negara akan kehilangan arah,” jelas Krisna dalam pemaparannya.
Diskusi juga menyoroti struktur sosial dalam negara ideal yang dianalogikan seperti tubuh manusia, di mana setiap elemen memiliki fungsi masing-masing dan bekerja secara harmonis. Namun, Krisna tidak menutup kritik terhadap pemikiran tersebut, terutama terkait kecenderungan elitis dan utopis dalam konsep kepemimpinan ideal yang sulit diterapkan dalam sistem demokrasi modern.
Sebagai penanggap, Sahabat Gading memperkaya diskusi dengan perspektif kontekstual, mengaitkan gagasan Al-Farabi dengan realitas politik Indonesia saat ini. Ia menyoroti bagaimana praktik kekuasaan kerap terjebak pada pragmatisme dan kehilangan orientasi etis, sehingga relevansi pemikiran Al-Farabi tetap penting sebagai kerangka normatif.
Forum berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif peserta. Berbagai pandangan mengemuka, mulai dari relasi agama dan negara, kritik terhadap oligarki politik, hingga problem moralitas dalam demokrasi kontemporer. Hal ini menunjukkan bahwa ruang dialektika tidak hanya menjadi forum akademik, tetapi juga wadah refleksi kritis terhadap kondisi bangsa.
Melalui kegiatan ini, PMII Rayon Sufi Jalaluddin Rumi menegaskan komitmennya sebagai organisasi mahasiswa yang tidak hanya bergerak secara struktural, tetapi juga konsisten membangun tradisi intelektual yang hidup, kritis, dan kontekstual di lingkungan kampus. Forum dialektika diharapkan terus menjadi ruang subur bagi lahirnya gagasan-gagasan progresif yang mampu menjawab tantangan zaman. (sna/red)



