Dari Keterbatasan Menjadi Warna Kehidupan, Kisah Mahendra Menaklukkan Buta Warna Lewat Lukisan

Tulungagung, Mataraman.net – Di sebuah sudut kampus UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, seorang mahasiswa semester enam Program Studi Tadris Bahasa Indonesia diam-diam mengekspresikan dirinya melalui warna-warna di atas kanvas. Ia adalah Mahendra, mahasiswa kelahiran 22 Januari 2004 yang menemukan dunia seni justru dari keterbatasan yang dimilikinya.

Tak banyak yang menyangka, di balik lukisan-lukisan penuh warna yang ia buat, Mahendra ternyata mengalami buta warna sebagian. Namun kondisi itu tidak membuatnya menyerah. Sebaliknya, ia menjadikan kekurangan tersebut sebagai kekuatan untuk terus berkarya.

Mahendra bercerita, ketertarikannya pada seni mulai tumbuh saat duduk di bangku SMA, tepatnya ketika mengikuti praktik pelajaran seni budaya. Sebelum itu, ia mengaku lebih menyukai hal-hal akademik dibanding kegiatan non-akademik seperti melukis.

“Bakat ini sebenarnya baru saya ketahui dan saya geluti beberapa tahun terakhir. Dari SD sampai SMP kelas 3 saya lebih suka hal-hal akademik dibanding non-akademik seperti melukis,” ujarnya.

Baca Juga :  Semarak Smariduta Youth Carnival Vol 6: Ada Lomba Dance Hingga Datangkan Band Nasional

Awalnya, ia hanya menyukai warna tanpa benar-benar memahami arah ketertarikannya. Namun rasa suka itu perlahan berubah menjadi keberanian untuk menuangkannya ke dalam kanvas.

“Awalnya hanya senang dengan warna, kemudian saya memberanikan diri mewarnai kanvas dengan penuh keyakinan tanpa sedikit pun ragu-ragu. Itulah awal mula saya melukis,” katanya.

Di balik goresan kuas yang tampak hidup, tersimpan kisah pribadi yang jarang diketahui orang lain. Mahendra mengaku, sebagian lukisannya lahir dari pergulatan dirinya menghadapi kondisi buta warna yang ia alami.

“Barangkali orang akan bertanya, sebenarnya di balik lukisan saya yang penuh warna ada kekurangan yang hendak saya tutupi, yaitu buta warna sebagian,” ungkapnya.

Meski demikian, Mahendra menolak menjadikan keterbatasannya sebagai alasan untuk berhenti. Ia percaya setiap manusia memiliki caranya sendiri untuk berkembang.

Baca Juga :  Sekolah Diterjang Tanah Longsor, Belasan Siswa SD di Tulungagung Terpaksa Belajar di Tenda Darurat

“Dengan kekurangan itu, ternyata gambar dan lukisan yang saya buat tidak kalah dengan orang yang memiliki kondisi lebih sempurna. Kekurangan itu justru saya ubah menjadi kelebihan,” tambahnya.

Bagi Mahendra, melukis bukan sekadar menggambar objek atau memainkan warna. Kanvas baginya adalah ruang untuk menggambarkan isi hati dan perjalanan hidup.

Ia mengatakan, perpaduan warna gelap dan terang dalam lukisannya memiliki makna tersendiri. Warna-warna itu merepresentasikan kehidupan yang penuh proses, jatuh bangun, serta harapan.

“Di balik lukisan itu sebenarnya saya hanya ingin menggambarkan hati saya. Ada warna gelap dan terang, sebab saya percaya hidup ini seperti proses membuat lukisan. Tidak selalu gelap, ada saatnya terang seperti warna dalam lukisan saya,” jelasnya.

Baca Juga :  Ansor Watulimo Trenggalek Sukses Gelar PKD,  Cetak Kader Militan Era Digital

Meski telah menemukan passion dalam dunia seni, Mahendra mengaku masih memiliki tantangan terbesar dalam dirinya sendiri, yakni rasa malas. Menurutnya, hal itu menjadi hambatan yang sering kali sulit dijelaskan penyebabnya.

“Tantangan terbesar saya sebenarnya rasa malas. Kalau ditanya penyebabnya saya juga tidak bisa menjawab dengan pasti,” katanya sambil tersenyum.

Ke depan, Mahendra berharap dapat terus melawan rasa malas tersebut agar semakin produktif menghasilkan karya. Ia juga berharap dunia seni di Indonesia dapat terus berkembang dan mendapat tempat lebih luas di tengah masyarakat.

“Harapan saya ke depan hanya ingin rasa malas itu hilang supaya saya lebih sering membuat karya. Saya juga berharap dunia seni nantinya akan lebih maju lagi,” tutupnya. (sna/red)

Keterbatasan, Warna Kehidupan, Kisah Mahendra, Buta Warna, Lewat Lukisan,

Berita Terkait

Berita Terbaru

Tradisi Manten Tebu Jadi Simbol Syukur Jelang Musim Giling 2026 di PG Modjopanggung

Tulungagung, Mataraman.net — Tradisi Manten Tebu kembali digelar menjelang musim giling 2026 sebagai bagian dari ritual budaya yang masih dilestarikan sejumlah pabrik gula di...