Tradisi Manten Tebu Jadi Simbol Syukur Jelang Musim Giling 2026 di PG Modjopanggung

Tulungagung, Mataraman.net — Tradisi Manten Tebu kembali digelar menjelang musim giling 2026 sebagai bagian dari ritual budaya yang masih dilestarikan sejumlah pabrik gula di Jawa Timur, termasuk Pabrik Gula (PG) Modjopanggung, Tulungagung. Tradisi turun-temurun ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus penanda kesiapan memasuki musim produksi gula.

Manten Tebu merupakan upacara adat yang menyimbolkan “pernikahan” dua batang tebu pilihan sebelum proses penggilingan dimulai. Dua batang tebu tersebut dipilih dan diperlakukan layaknya pasangan pengantin dalam adat Jawa.

Tradisi Manten Tebu Jadi Simbol Syukur Jelang Musim Giling 2026 di PG Modjopanggung
Tradisi Manten Tebu jdi Simbol syukur jelang musim Giling 2026 di PG Modjopanggung. (dok)

Prosesi ritual dilakukan mulai dari pemilihan tebu terbaik, penghiasan batang tebu menggunakan kain dan bunga, hingga arak-arakan menuju pabrik gula dengan iringan gamelan dan tarian tradisional. Tradisi tersebut juga dilengkapi sajian tumpeng, ayam ingkung, jajanan pasar, dan kembang tujuh rupa sebagai simbol doa keselamatan dan harapan panen melimpah.

Baca Juga :  Ruang Kelas 60 SD di Tulungagung Bakal Direhabilitasi

General Manager PG Modjopanggung, Sugianto, mengatakan upacara adat tersebut telah dilakukan secara turun-temurun setiap menjelang buka giling. Menurutnya, tradisi itu menjadi bentuk sinergitas antara pabrik gula dengan seluruh komponen usaha, terutama para petani tebu.

“Secara filosofis makna dari manten tebu adalah wujud rasa syukur dan wujud kesiapan baik itu pabrik gula maupun petani dalam rangka menyongsong giling tahun 2026. Ini adalah sebuah prosesi sakral yang sudah bertahun-tahun dilaksanakan oleh Pabrik Gula Modjopanggung,” kata Sugianto, Sabtu (9/5/2026).

Ia menjelaskan, ritual tersebut tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial, melainkan bagian dari pelestarian budaya sekaligus penguatan hubungan antara perusahaan dan masyarakat petani.

Baca Juga :  Kelompok Tani Makmur Kendalbulur Mulai Panen Tembakau, 26 Hektare Lahan Hasilkan 546 Ton

Tradisi Manten Tebu sendiri telah dikenal sejak abad ke-19 pada masa kolonial Belanda saat Jawa menjadi pusat perkebunan tebu dunia. Tradisi ini berkembang dari perpaduan budaya Hindu-Buddha dan Islam yang kemudian melekat dalam kehidupan masyarakat agraris Jawa.

Selain mengandung nilai spiritual dan budaya, Manten Tebu juga memiliki makna sosial yang kuat. Ritual ini menjadi momentum mempererat gotong royong antarwarga desa, pekerja pabrik gula, dan petani tebu menjelang musim produksi.

Di tengah modernisasi industri gula, tradisi tersebut masih dipertahankan sebagai identitas budaya lokal sekaligus pengingat pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan sejarah industri gula di Indonesia. (sna/red)

Baca Juga :  Bupati Gatut Imbau Seluruh Siswa Proaktif Sebelum Menyantap MBG

 

Berita Terkait

Berita Terbaru

Cegah Kerusakan Lebih Parah, Pemkab Tulungagung Perkuat Tanggul Dam Serut

Tulungagung, Mataraman.net - Konstruksi tanggul pada Dam Serut masuk Desa Serut, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung dilakukan perbaikan. Hal itu dilakukan agar tanggul Dam Serut tidak...