Tulungagung, Mataraman.net — Fase penyusunan skripsi masih menjadi tantangan terbesar bagi sebagian mahasiswa tingkat akhir. Mulai dari pengajuan judul, proses bimbingan, revisi, hingga sidang skripsi, seluruh tahapan dinilai penuh tekanan sekaligus pengalaman yang tidak terlupakan.
Mahasiswa semester akhir UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, David Yogi, mengungkapkan bahwa proses awal pengajuan judul sering kali menjadi fase paling membingungkan bagi mahasiswa.
“Fase ini biasanya membuat mahasiswa mendadak jadi cenayang. Semua dipikirkan, mulai dari ‘judul ini aman nggak ya?’ sampai takut topiknya sudah pernah diteliti,” ujarnya sambil tertawa.
Menurutnya, banyak mahasiswa justru mengalami kebuntuan ketika mulai menentukan topik penelitian. Tidak sedikit yang akhirnya menghabiskan waktu membuka media sosial dibanding mulai menulis.
“Kadang baru buka laptop lima menit, tahu-tahu malah scrolling dan existential crisis. Padahal inti pengajuan judul sebenarnya cuma mencari keresahan yang sanggup ditanggung sampai sidang,” katanya.
Selain pengajuan judul, sistem bimbingan skripsi juga menjadi cerita tersendiri di kalangan mahasiswa. David menyebut komunikasi dengan dosen pembimbing sering memengaruhi kondisi mental mahasiswa.
“Kadang dosennya fast respon bikin hati tenang, kadang chat dibalas setelah bumi berevolusi satu putaran,” ujarnya.
Mahasiswa, lanjut David, hidup di antara dua kemungkinan notifikasi dari dosen pembimbing, yakni persetujuan melanjutkan penulisan atau revisi tambahan.
“Kalimat ‘sedikit revisi’ itu kadang ternyata revisinya satu alam semesta,” tambahnya.
Tidak hanya itu, tahapan administrasi menuju seminar proposal dan sidang skripsi juga dinilai cukup melelahkan. Berbagai syarat mulai dari jumlah SKS, persetujuan dosen pembimbing, hingga kelengkapan berkas harus dipenuhi mahasiswa.
“Belum lagi drama print, map, tanda tangan, stempel, dan file yang mendadak error di hari penting. Sidangnya belum mulai, mental sudah seminar duluan,” ungkap David.
Setelah sidang selesai, mahasiswa masih harus menghadapi tahap revisi. Menurut David, fase ini menjadi ujian kesabaran terakhir sebelum skripsi benar-benar dinyatakan selesai.
“Ada yang revisinya cuma typo, ada juga yang setelah sidang merasa seperti disuruh membangun ulang peradaban,” katanya.
Ia menilai proses revisi membuat mahasiswa harus mampu membagi waktu dan menjaga konsistensi di tengah rasa lelah.
“Di titik ini kopi jadi teman, kasur jadi godaan, dan mood jadi makhluk paling langka,” ujarnya.
Meski demikian, David membagikan tips bagi mahasiswa agar dapat menyelesaikan skripsi tepat waktu. Ia menekankan pentingnya disiplin dan konsistensi dalam menulis.
“Jangan menunggu mood, karena mood mahasiswa skripsi itu mirip dosen sibuk, susah ditebak keberadaannya,” katanya.
Menurutnya, skripsi tidak harus dikerjakan dalam sekali jadi, melainkan dicicil secara bertahap setiap hari.
“Pada akhirnya, skripsi tidak selesai oleh orang yang paling semangat, tapi oleh orang yang tetap mengetik walau batin sudah ingin logout dari kehidupan akademik,” pungkasnya. (sna/red)



