Tulungagung, Mataraman.net – Petani tebu di Tulungagung mengeluhkan penerimaan pupuk subsidi yang tidak merata. Kondisi itu menyebabkan petani tebu di Tulungagung harus menanggung biaya pupuk sendiri selama berlangsungnya program Bongkar Ratoon Tebu.
Ketua DPC Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Tulungagung, Santoso mengatakan alokasi pupuk subsidi dari pemerintah untuk petani tebu belum merata. Pasalnya, alokasi pupuk subsidi pada program ini hanya untuk lahan seluas 2 hektare saja.
“Jadi lahan petani yang mendapat pupuk subsidi hanya cukup untuk lahan seluas 2 hektare saja,” kata Santoso, Sabtu (31/10/2026).
Kondisi itu menyebabkan para petani tebu yang ikut program Bongkar Ratoon Tebu harus mengeluarkan biaya sendiri. Itu agar sisa lahan yang dikelola mereka mendapat pupuk tambahan meski harga pupuk non subsidi mengalami kenaikan.
Santoso menyebut, harga pupuk non subsidi di Tulungagung awalnya hanya seharga Rp350 ribu per sak. Namun saat ini, harganya naik lebih dari dua kali lipat hingga menyentuh angka Rp700 ribu per sak pupuk non subsidi.
“Karema hanya 2 hektare yang disusidi, petani tetap harus beli tambahan pupuk untuk sisa lahan mereka,” ungkapnya.
Santoso menyebut jika petani tebu di Tulungagung menggunakan pupuk berjenis Za untuk lahan mereka. Idealnya, kebutuhan pupuk untuk mencukupi lahan tanaman tebu di Tulungagung bisa mencapai 1 hingga 1,5 ton per hektare.
Dengan ketersediaan pupuk yang memadai, tentu nantinya akan meningkatkan produksi tanaman tebu. HKTI Tulungagung sudah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian untuk menambah alokasi pupuk subsidi kepada petani tebu.
“Kami sudah sampaikan kepada Dinas Pertanian agar petani bisa mendapat pupuk subsidi sesuai luasan tanam karena kebutuhan pupuk mulai 1 sampai 1,5 ton per hektare,” pungkasnya. (sal/red)



