Lomba Qiroatul Hajat di Tulungagung: Budaya dan Agama Saling Memperkaya

Tulungagung, Mataraman.net – Gegap gempita peringatan Hari Santri 2024 di berbagai daerah belum usai. Salah satunya Kementerian Agama (Kemenag) melalui Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) serta Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) Tulungagung menghelat Musabaqoh Qiroatul Hajat.

Qiroatul Hajat sendiri di wilayah mataraman sebagai salah satu pengantar hingga mengulas hajatan yang dilakukan oleh sohibul bait. Mengulas satu per satu hidangan sajian selamatan makna filosofi dengan syari’at islam.

Sekretaris Panitia, Gus Ubaid M Baidlowi mengatakan bahwa latar belakang lomba musabaqoh qiroatul hajat atau ngajatan ini dengan temanya ‘Metri dan Doa Hari Santri’ adalah bagaimana bisa melestarikan budaya tradisional Indonesia yang terasimilasi dengan nilai-nilai nilai islam.

Baca Juga :  Tak Hadiri Pameran Museum di Tulungagung, Bupati Gatut Bakal Evaluasi OPD

“Kita latar belakangnya agar orang mengetahui bahwa bagaimana budaya dan agama itu selaras dan saling memperkaya,” ujar Gus Ubaid M Baidlowi kepada Mataraman.net, Ahad (27/10/2024).

Ia menerangkan pentingnya ngajatan ini karena yang membawakan ngajatan identik orang-orang yang sudah sepuh atau tua. Sedangkan bagi kalangan anak anak muda biasanya kurang begitu diminati dengan ngajatan ini.

Pria yang sebelumnya mengemban amanah Sekretaris RMINU Tulungagung ini menjelaskan tujuannya lain adalah untuk regenerasi bagi kalangan muda lebih tertarik.

Dahulu pernah diselenggarakan tahun 2021 yang ikut kebanyakan generasi tua-tua. Lalu, berhenti saat pandemi Covid-19 hingga akhirnya bisa terlaksana di tahun 2024.

Baca Juga :  Longsor di Tulungagung Sebabkan Tembok Rumah warga Jebol

“Alhamdulillah yang ikut banyak yang muda. Bahkan pemenangnya pun dari kalangan muda. Karena ternyata mereka lebih kreatif dan lebih memahami daripada yang tua,” paparnya.

Gus Ubaid menambahkan penilaian lomba ini pertama akhlak atau tata krama 30 persen. Selanjutnya keselarasan dengan syariat Islam 40 persen.

“Karena ada kejawen, kalau sampai berbau-bau kejawen didalam pengucapan ngajatan ya kita kurangi,” bebernya.

Selain itu, penilaian juga dari kelengkapan menjelaskan ubo rampen. Karena hajatan mengkajati apa yang di suguhkan atau dinikmati berupa tumpeng harus dibaca semua yakni metri dan hari santri.

“Isinya ada jenang sengkolo, jenang sepuh, buceng kuat, lengkap hingga ayamnya harus ayam jawa,” ulasnya.

Baca Juga :  Warga Sumberejo Trenggalek Berebut Air Bersih dari BPBD Jatim

Antusiasme dari masyarakat dikatakannya sangat mendukung sebab dulu pernah menyelenggarakan hal serupa ramai sekali. Lalu, Lama tidak membuat gegara pandemi dan baru berlanjut tahun ini peserta dibatasi 40 orang.

“Alhamdulillah peserta lumayan banyak
Total Peserta 40 di Tulungagung ada 19 kecamatan, jadi kita hanya maksimalkan 2 saja yang diikutkan,” terangnya.

Gus Ubaid berharap karena juga kerjasama dengan Lesbumi NU, Kemenag Kabupaten Tulungagung supaya acara ini lebih memperkuat kearifan lokal yaitu budaya yang berpadu dengan islam sebagai perekat Indonesia.

“Mengenalkan tradisi adat yang mencerminkan budaya dan rasa cinta. Sekaligus memperkuat identitas budaya dan rasa cinta NKRI,” tandasnya. (mad)

Berita Terkait

Berita Terbaru

Masjid Al Fattah Tulungagung Jadi Tuan Rumah Jambore ke-3 Bersih-bersih Masjid

Tulungagung, Mataraman.net - Masjid Al-Fattah Tulungagung menjadi lokasi Jambore ke-3 Bersih-bersih Masjid dengan tagline 'Bersih Masjidku, Bersih Negeriku'. Total ada ratusan peserta dari berbagai...