Tulungagung, Mataraman.net – Proyek pembongkaran ruko di kawasan Stasiun Tulungagung menuai kekecewaan warga maupun pedagang penyewa. Pasalnya, pembongkaran ruko itu dinilai tebang pilih, mengingat tidak semua ruko yang disewa dibongkar.
Salah seorang warga yang enggan disebut namanya mengatakan, indikasi itu terlihat jelas selama proses pembongkaran berlangsung. Pasalnya, terlihat sejumlah aset bangunan yang semestinya turut diratakan, namun justru tidak dilakukan oleh pihak PT. KAI.
“Seperti di sisi utara ada bangunan ruko yang disewa oleh inisial K yang menyatu dengan rumah dinas dan tidak dibongkar. Kemudian ruko di sisi selatan yang disewa inisial T juga tidak dibongkar,” ungkap warga, Sabtu (15/8/2026).

Selain itu, penyewa berinisial T itu merupakan pihak pengembang yang disinyalir menguasai mayoritas ruko di kawasan tersebut. Bahkan ada indikasi jika dia menyewakannya kembali ke warga dengan tarif melambung hingga dua kali lipat dari harga resmi.
Kedua penyewa ini merupakan pemodal besar yang disinyalir memiliki backing oknum orang pusat, sehingga ruko yang mereka tempati dibiarkan berdiri kokoh. Kondisi ini memicu kecurigaan warga karena PT. KAI dinilai tebang pilih karena hanya rakyat kecil yang terdampak.
“Kenapa pemodal kecil dihancurkan, sedangkan pemodal besar masih dipertahankan. Ini jelas tidak adil dan ada indikasi kecurangan,” ungkapnya.
Masyarakat menilai, ketidakadilan dalam eksekusi pada lahan PT KAI ini dinilai berpotensi memicu gejolak sosial hingga kerusuhan. Apalagi jika pihak berwenang terus menutup mata dan tidak bertindak secara transparan dalam menyikapi permasalahan ini.
Selain itu, masyarakat juga menuntut kejelasan dan mendesak PT KAI serta instansi terkait untuk melakukan evaluasi total. Warga juga meminta agar pemangku jabatan menuntaskan pembongkaran secara adil tanpa memandang kekuatan finansial pemilik bangunan.
“Semua pihak harus transparan dan berlaku adil. Kalau memang alasannya untuk pengembangan Stasiun Tulungagung, seharusnya semua dibongkar,” pungkasnya.
Sementara itu, Humas PT. KAI Daop 7 Madiun, Tohari mengatakan, proses pembongkaran kios ini menjadi tahap awal pengembangan Stasiun Tulungagung. Secara rinci, terdapat sebanyak 84 kios yang dibongkar oleh PT. KAI pada sisi barat Stasiun Tulungagung.
“Pembongkaran masih fokus di kios sebelah barat Stasiun Tulungagung. Total ada 84 kios yang dikontrak 13 orang,” kata Tohari.
Rencananya, PT. KAI akan memanfaatkan lahan tersebut untuk pelebaran jalan Stasiun Tulungagung. Selain itu, lahan tersebut juga akan dipakai area parkir dan drop zone, sehingga penumpang kereta api lebih nyaman.
Sedangkan kios yang dibongkar itu sebagian besar merupakan kios yang telah habis masa kontraknya. Meski tidak menampik jika terdapat kios yang masih terdapat sisa kontrak dan tetap dilakukan pembongkaran.
“Kami akan memberikan kompensasi bagi kios yang masih ada sisa kontrak. Kami juga akan menyiapkan kawasan untuk pedagang pada proyek ini dan pedagang lama jadi prioritas,” tutupnya. (sal/red)



