Trenggalek, Mataraman.net – Ribuan masyarakat di kawasan Teluk Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, tumpah ruah memadati pesisir pantai untuk mengikuti ritual adat Larung Sembonyo atau Labuh Laut. Tradisi tahunan yang diwariskan secara turun-temurun ini merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Allah SWT atas keselamatan dan melimpahnya hasil tangkapan ikan selama satu tahun terakhir.
Ketua Panitia Larung Sembonyo Teluk Prigi, Wanto (47), menjelaskan bahwa Labuh Laut di Pantai Prigi bukan sekadar perayaan, melainkan upacara adat sedekah laut yang sakral bagi masyarakat nelayan Watulimo.

Wanto memaparkan tradisi ini rutin dilaksanakan setiap tahun pada bulan Selo dalam penanggalan Jawa. Menurutnya, pemilihan waktu tersebut didasarkan pada partisipasi masyarakat untuk mensyukuri berkah keselamatan saat melaut.
“Secara historis, agenda ini juga menjadi bentuk penghormatan masyarakat terhadap leluhur. Khususnya untuk memperingati kisah Tumenggung Yudhi Negoro yang telah berhasil membuka wilayah pesisir Prigi,” ujar Wanto saat ditemui di lokasi, Kamis (23/4/2026).
Meskipun ritual berjalan dengan khidmat dan meriah, Wanto memberikan catatan mengenai kondisi hasil laut pada tahun ini. Ia menyebutkan adanya perbedaan signifikan jika dibandingkan dengan penyelenggaraan pada tahun sebelumnya.
“Perbedaan tahun ini dengan tahun kemarin adalah saat ini belum ada ikan (musim ikan belum tiba),” imbuhnya.
Pengamatan penulis, prosesi pelarungan ini turut disaksikan oleh jajaran pejabat pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta ribuan wisatawan. Sebagian besar warga tidak hanya menonton dari bibir pantai, tetapi juga ikut menumpang seratusan perahu nelayan untuk mengawal sesaji hingga ke tengah laut.
Berdasarkan pantauan di lapangan, sebelum prosesi pelarungan dimulai, sesepuh adat setempat terlebih dahulu memanjatkan doa-doa ritual di hadapan tumpeng raksasa dan sesaji. Tak berselang lama, tumpeng berisi hasil bumi tersebut dibawa ke tengah laut menggunakan kapal motor, diiringi oleh ratusan perahu nelayan yang membentuk konvoi meriah di perairan Teluk Prigi.
Ritual Larung Sembonyo ini pun menegaskan identitas masyarakat Prigi sebagai komunitas pelaut yang kuat dalam menjaga keseimbangan antara tradisi budaya. Pun juga penghormatan sejarah, dan kearifan lokal dalam mengelola sumber daya laut. (bahr/red)


