Larung Sembonyo, Jejak Syukur dan Pesan Leluhur yang Tetap Hidup di Pantai Sine Tulungagung

Tulungagung, Mataraman.net –  Di tengah debur ombak selatan yang tak pernah benar-benar tenang, masyarakat nelayan Pantai Sine, Kabupaten Tulungagung, masih menjaga sebuah tradisi tua yang diwariskan lintas generasi: Larung Sembonyo. Bagi warga pesisir, ritual ini bukan sekadar acara tahunan, melainkan pengingat tentang hubungan manusia, laut, dan warisan leluhur yang harus dijaga bersama.

Sesepuh adat setempat, Mbah Jumar, menuturkan bahwa tradisi tersebut berawal dari kisah pembukaan wilayah Pantai Sine oleh Ki Demang dan Nyai Demang. Dalam cerita turun-temurun itu, datang seorang tokoh bernama Ratu Jong yang ingin meminang putri mereka. Namun karena digambarkan sebagai sosok raksasa atau buto, Ki Demang mengadakan sayembara tayuban di Pasetran Gondo Mayit sebagai siasat untuk menjebaknya.

Baca Juga :  Candi Sranggahan Masa Majapahit Ini Cocok Untuk Edukasi di Tulungagung
Larung Sembonyo, Jejak Syukur dan Pesan Leluhur yang Tetap Hidup di Pantai Sine Tulungagung
Larung Sembonyo dihadiri tokoh masyarakat dan pemerintahan setempat. (dok)

Menurut kisah yang dipercaya masyarakat, Ratu Jong beserta para pengikutnya kemudian tewas setelah meminum air gadung beracun. Mereka dimakamkan di kawasan tersebut, sementara para leluhur meninggalkan pesan agar adat Jawa tetap dirawat hingga akhir zaman.

Bagi masyarakat nelayan Pantai Sine, cerita itu tidak hanya dianggap legenda, tetapi juga sumber nilai tentang penghormatan terhadap leluhur dan alam sekitar. Karena itulah Larung Sembonyo terus dipertahankan sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki laut sekaligus doa keselamatan bagi para pencari ikan di Samudra Hindia.

Dalam prosesi ritual, warga melarung tumpeng besar dan replika ikan ke laut selatan. Tradisi ini dipercaya sebagai simbol persembahan kepada penguasa laut selatan, yang dalam kepercayaan masyarakat Jawa dikenal sebagai Ibu Ratu Kidul.

Baca Juga :  Polres Tulungagung Setujui Lokasi Relokasi Polsek Sumbergempol

Suasana sakral semakin terasa karena pelaksanaan ritual memiliki aturan adat yang tidak boleh diubah. Larung Sembonyo wajib digelar pada bulan Selo dalam penanggalan Jawa dan harus jatuh pada Jumat Kliwon. Berbagai sesaji seperti kembang telon, cok bakal, badeg, rokok klobot, dupa, candu, hingga kemenyan juga disiapkan sebagai bagian dari kelengkapan ritual.

Tak hanya itu, pentas seni tradisional seperti wayang krucil dan jaranan turut meramaikan rangkaian acara. Kesenian tersebut dipercaya menjadi bagian yang disenangi oleh penguasa laut selatan, sehingga keberadaannya selalu dipertahankan dalam setiap pelaksanaan tradisi.

Di balik seluruh prosesi itu, tersimpan semangat gotong royong masyarakat nelayan. Mbah Jumar menjelaskan bahwa tradisi Larung Sembonyo dijalankan secara swadaya oleh warga sebagai bentuk tanggung jawab bersama menjaga adat peninggalan leluhur.

Baca Juga :  Sunarko Sodrun Tulungagung Terima Penghargaan Kemendikbud: 40 Tahun Menulis Sastra Jawa

Kepercayaan masyarakat terhadap kesakralan tradisi ini pun masih kuat. Menurut penuturan para sesepuh, apabila ritual ditinggalkan, dipercaya akan muncul peristiwa kesurupan sebagai pertanda agar adat tersebut tidak dilupakan.

Di era modern ketika banyak tradisi mulai terkikis zaman, Larung Sembonyo justru menjadi ruang bagi masyarakat Pantai Sine untuk terus merawat identitas budaya mereka. Di antara aroma dupa, suara gamelan, dan ombak laut selatan, tradisi itu tetap hidup—menjaga ingatan tentang leluhur sekaligus harapan bagi para nelayan yang menggantungkan hidup pada laut. (sna/red)

 

 

Berita Terkait

Berita Terbaru

Dorong UMKM Perikanan “Naik Kelas”, Yayasan Bima Sakti Soroti Ketergantungan Desa pada Pola Usaha Lama

Tulungagung, Mataraman.net -  Di tengah derasnya arus digitalisasi ekonomi yang belum sepenuhnya menyentuh sektor usaha desa, Yayasan Bima Sakti menggelar sarasehan budidaya ikan di...