Tulungagung, Mataraman.net – Selama sembilan bulan terakhir, kasus Demam berdarah Dengue (DBD) di Tulungagung telah mencapai ratusan kasus. Bahkan, terdapat sejumlah kasus meninggal dunia akibat DBD karena telat mendapat layanan kesehatan.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, dr. Aris Setiawan mengatakan, kasus DBD di Tulungagung telah mencapai sebanyak 315 kasus sejak Januari 2026. Bahkan, kasus DBD kali ini tetap muncul meski akhir-akhir ini terjadi musim kemarau di Tulungagung.
“Sesuai data kami, pada tiga bulan terakhir kami masih mencarat adanya kasus DBD meski suday musim kemarau,” kata dr. Aris Setiawan, Sabtu (17/10/2026).
Secara rinci, pada Bulan Juli ada 32 kasus DBD, Agustus 25 kasus DBD dan September 23 kasus DBD. Bahkan, Aris mencatat adanya dua kasus pasien yang meninggal dunia akibat DBD di bulan September kemarin.
Diketahui, pasien DBD yang meninggal dunia itu disebabkan karena tidak segera dibawa ke layanan kesehatan. Akibatnya, penanganan medis terhadap pasien DBD itu terlambat untuk mendapatkan penanganan medis.
“Pasien terlambat dibawa ke layanan kesehatan, jadi bukan penanganan medis yang terlambat,” ungkapnya.
Aris menyebut, dua korban meninggal dunia akibat DBD merupakan warga Kecamatan Boyolangu dan Gondang. Atas temuan ini, Dinkes Tulungagung mengingatkan agar masyarakat selalu waspada terhadap DBD.
Apabila masyarakat mengalami demam dan sudah diberi obat tetapi tidak kuncung membaik agar segera diperiksa di layanan kesehatan. Selain itu, masyarakat juga diminta mengoptimalkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
“Tingkatkan daya tahan tubuh dengan istirahat cukup, konsumsi air putih, makan bergizi dan olahraga teratur. Segara ke layanan kesehatan jika mengalami demam lebih dari tiga hari,” pungkasnya. (sal/red)



