Di Balik Sunyinya Gunung Budheg, Mata Air Tetap Mengalir dan Hutan Tetap Terjaga

Tulungagung, Mataraman.net –  Saat akhir pekan, jalur pendakian Gunung Budheg kerap dipenuhi pendaki, pelajar, hingga warga yang berolahraga pagi. Namun di balik meningkatnya aktivitas itu, gunung yang berdiri tak jauh dari pusat kota Tulungagung ini ternyata masih menyimpan keseimbangan alam yang terjaga.

Udara sejuk, hutan hijau, dan sumber mata air yang tetap mengalir sepanjang tahun menjadi bukti bahwa Gunung Budheg belum kehilangan fungsi ekologisnya.

Ketua Pokdarwis sekaligus pengelola Gunung Budheg, Agus Utomo, menyebut hingga saat ini kondisi lingkungan di kawasan gunung masih aman meski aktivitas wisata dan olahraga terus meningkat.

Baca Juga :  Bupati Kediri Dhito Launching Redesain Batik Panji

“Anak-anak yang olahraga naik gunung sekarang memang semakin banyak, tapi kondisi ekologis masih aman terjaga,” ujarnya.

Di tengah kekhawatiran banyak kawasan wisata alam dipenuhi sampah plastik, Gunung Budheg justru bergerak dengan cara sederhana namun konsisten. Para relawan rutin membersihkan jalur dan area puncak setiap dua minggu sekali.

Bagi masyarakat sekitar, Gunung Budheg bukan sekadar tempat wisata. Kawasan ini menjadi penyangga kehidupan. Agus menjelaskan, tutupan vegetasi di kawasan hutan pangkuan desa kini mencapai sekitar 85 persen dari total luas 100 hektare.

Dampaknya terasa nyata di wilayah selatan gunung. Mata air tetap bertahan meski musim kemarau datang.

Baca Juga :  D'Wapo Tempat Ngopi Terbaik di Kota Batu, Inilah Alasannya....

“Sawah di selatan gunung tetap bisa ditanami padi sepanjang tahun karena tanahnya selalu basah,” katanya.

Karakter Gunung Budheg sebagai gunung api purba dengan dominasi batuan juga dinilai membuat kawasan ini relatif aman dari bencana longsor besar. Hingga kini, belum pernah terjadi longsor yang menimbulkan dampak serius bagi warga sekitar.

Menariknya, di tengah berkembangnya wisata sejak 2015, konflik antara kepentingan ekonomi dan pelestarian alam nyaris tidak terdengar. Aktivitas masyarakat lebih banyak berkembang di kaki gunung tanpa merambah kawasan inti hutan.

Kesadaran menjaga alam perlahan tumbuh bersama geliat wisata yang berkembang di bawah kaki gunung.

Baca Juga :  Virus-Keracunan Kasus Terbanyak Hewan Peliharaan di Durenan Trenggalek

Meski belum ada rencana pembangunan baru hingga 2027 akibat penghematan anggaran pemerintah daerah, suasana Gunung Budheg justru tetap terasa hidup lewat langkah para pendaki, relawan kebersihan, dan warga yang menjaga hutan dengan cara mereka sendiri.

Di hari biasa, Gunung Budheg memang tampak sepi. Namun dari kesunyiannya, gunung ini diam-diam terus menjaga udara, air, dan kehidupan di sekitarnya. (sna/red)

 

 

Berita Terkait

Berita Terbaru

Proyek Rp15,9 Miliar Dimulai, Penutupan Jembatan Gondang I Berpotensi Lumpuhkan Jalur Tulungagung–Trenggalek

Tulungagung, Mataraman.net  — Proyek penggantian total Jembatan Gondang I di Kecamatan Gondang mulai menunjukkan tanda-tanda pelaksanaan nyata. Di tengah belum jelasnya skema penutupan dan...