Tulungagung, Mataraman.net – Robohnya Bendungan Pacar di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung rupanya belum langsung berdampak pada lahan pertanian. Namun jika perbaikan Bendungan itu tidak kunjung dilakukan, hal itu berpotensi menyebabkan terganggunya pola tanam pada pertengahan tahun 2027 mendatang.
Plt Kabid Prasarana, Dinas Pertanian (Dispertan) Tulungagung, Pujiono mengatakan, bendungan Pacar mengairi lahan pertanian seluas 925 hektare. Lahan pertanian itu tersebar pada sembilan desa di Tulungagung.
“Total kurang lebih ada sebanyak 925 hektare lahan pertanian yang memerlukan bendungan Pacar untuk pengairan,” kata Pujiono, Rabu (26/8/2026).
Namun, rupanya tidak semua lahan pertanian tersebut terdampak atas robohnya Bendungan Pacar. Dinas Pertanian mencatat jika saat ini ada seluas 64 hektare lahan tanaman padi yang masih membutuhkan pasokan air.
Tanaman padi itu berlokasi di Desa Ngranti, Kecamatan Boyolangu, dan masih berusia sekitar 2 bulan. Selain itu, ada 46 hektare tanaman padi di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat, namun sudah hampir memasuki masa panen.
“Sedangkan sisanya saat ini ditanami tanaman palawija, sehingga tidak terlalu memerlukan pasokan air. Termasuk 46 hektare tanaman padi di Desa Pelem,” ungkapnya.
Meski begitu, dampak robohnya Bendungan Pacar itu diprediksi akan sangat terasa pada pertengahan tahun 2027 mendatang. Apabila pembangunan Bendungan Pacar tidak segera selesai, pola tanam pada 925 hektare lahan pertanian itu akan terganggu.
Pasalnya, saat itu sudah mulai masuki akhir dari masa tanam (MT2), mengingat saat itu diprediksi debit air akan menurun. Sebagai langkah antisipasi, Dinas Pertanian akan mencoba menyarankan untuk peralihan komoditas tanaman menjadi tanaman palawija.
“Kalau memang pembangunan Bendungan Pacar terhambat, petani yang biasa menanam padi mau tidak mau harus beralih menjadi tanaman palawija,” pungkasnya. (sal/red)



