Tulungagung, Mataraman.net – Sosok Mbah Maulana Ishak atau yang kerap disebut Mbah Maul masih menjadi perbincangan di kalangan masyarakat Tulungagung, khususnya di wilayah Dusun Demangan, Desa Mojoarum. Tokoh yang diyakini sebagai penyebar Islam awal ini hingga kini belum memiliki catatan sejarah pasti terkait asal-usul maupun periode kehidupannya.
Sejumlah narasumber menyebutkan bahwa informasi mengenai Mbah Maul masih terbatas dan kerap memunculkan perbedaan pandangan. Salah satunya disampaikan oleh Mbah Sodiq, juru kunci Gunung Mbah Maul yang tinggal di sekitar lokasi makam. Ia menyebut Mbah Maulana Ishak sebagai sosok auliya besar dalam tradisi keislaman.
“Gelar ‘Maulana’ bukan gelar sembarangan. Itu menunjukkan kematangan ilmu lahir dan batin,” ujar Mbah Sodiq saat ditemui di Demangan.
Menurutnya, Mbah Maulana Ishak diperkirakan hidup pada masa awal penyebaran Islam di tanah Jawa, bahkan sezaman dengan Syekh Subakir. Ia diyakini sebagai ulama dengan spesialisasi sufistik (sirri) yang memiliki tugas menyebarkan ajaran Islam di wilayah pesisir utara hingga selatan.
Pendapat serupa juga diperkuat oleh warga setempat, Maryono, yang menyebut bahwa keberadaan Mbah Maul diduga lebih dahulu dibandingkan tokoh lokal lain seperti Mbah Imam Sopingi.
“Setiap malam Jumat Legi, banyak peziarah dari dalam maupun luar kota yang datang ke makam beliau,” kata Maryono.
Makam Mbah Maulana Ishak sendiri berada di atas perbukitan di Dusun Demangan, tepatnya di pertigaan menuju Bukit China. Lokasi tersebut dikenal memiliki suasana sejuk dengan hamparan makam di sekitarnya, termasuk area pemakaman warga Tionghoa di bagian bawah bukit.
Secara fisik, makam utama terletak di tengah dan dikelilingi beberapa makam lain yang diyakini sebagai kerabat, santri, atau bahkan keluarga dekatnya. Namun, identitas pasti dari makam-makam tersebut juga belum dapat dipastikan. (sna/red)



