Kiai di Blitar Ini Gunakan Wayang Kulit sebagai Media Dakwah Ramadan

Blitar, Mataraman.net – Berbagai inovasi dilakukan para pendakwah di Tanah Jawa untuk menyebarluaskan syiar Islam, khususnya selama bulan suci Ramadan. Salah satu metode unik ditunjukkan oleh seorang kiai muda asal Kabupaten Blitar, Kiai Nanang Masrukhi, yang menggunakan media wayang kulit untuk menyampaikan pesan-pesan spiritual.
Kiai Nanang Masrukhi, yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Pendidikan Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Blitar, menilai bahwa wayang kulit mampu membuat ceramah menjadi lebih menarik, komunikatif, dan mudah dipahami oleh jemaah.
Aksi dakwah yang tidak biasa ini dilakukan dalam agenda pengajian Safari Ramadan PC ISNU Blitar yang bertempat di Musala Nida’ul Khoir, Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar. Di tengah lantunan ayat suci dan tausiyah, hadir pertunjukan wayang kulit yang menyatu dengan materi ceramah secara harmonis.
Pria yang akrab disapa Ki Nanang Wisanggeni ini memadukan nilai-nilai keislaman dengan seni tradisional Jawa. Di hadapan para jemaah, beliau tidak sekadar berceramah secara lisan, tetapi juga piawai memainkan tokoh-tokoh wayang sebagai representasi pesan moral dan spiritual Ramadan.
Berawal dari Kecintaan di Pesantren
Kiai Nanang mengungkapkan, ide penggunaan wayang tersebut berawal dari ketertarikannya terhadap seni tradisional sejak mengenyam pendidikan di pondok pesantren. Ia menyebutkan gurunya kala itu sangat menggemari wayang, yang kemudian memicu dirinya untuk mendalami filosofi di balik kesenian tersebut.
“Asal-muasal saya mempunyai inisiatif memegang wayang karena pada saat dahulu di pesantren, saya mempunyai seorang kiai yang sangat menyukai wayang,” ujar Kiai Nanang kepada pewarta, Senin (02/03/2026).
Lebih lanjut, ia menjelaskan melalui wayang, dirinya mencoba memahami karakteristik budaya yang sarat akan nilai-nilai luhur, terutama yang berkaitan dengan tingkah laku manusia. Menurutnya, sifat-sifat dalam pewayangan sangat relevan untuk memberikan pemahaman karakter, khususnya bagi generasi muda.
Relevansi Budaya dan Pembelajaran
Selain faktor hobi, latar belakang Kiai Nanang sebagai pendidik di jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI) hingga sekolah menengah turut memperkuat keputusannya menggunakan media visual. Ia berpendapat bahwa wayang merupakan media pembelajaran yang efektif untuk menanamkan identitas diri.
Kiai Nanang menegaskan kendati ia seorang Muslim, identitas sebagai orang Jawa tidak boleh ditinggalkan. Wayang diambil sebagai simbol budaya yang tidak bertentangan dengan ajaran agama, melainkan menjadi jembatan untuk membumikan nilai-nilai Islam di Nusantara.
“Wayang ini saya ambil sebagai salah satu ciri dari budaya kita sebagai orang Jawa. Walaupun kita orang Islam, kita tidak mengingkari bahwasanya kita hidup di Tanah Jawa,” pungkasnya.
Melalui pendekatan ini, diharapkan syiar Islam di wilayah Blitar dapat lebih diterima oleh berbagai lapisan masyarakat tanpa menghilangkan jati diri budaya lokal yang telah mengakar kuat. (bahr/red)



