Tulungagung, Mataraman.net – SMP Negeri 1 Tulungagung menghelat pelatihan jurnalistik bagi siswa untuk mencetak generasi muda yang kritis dan membentengi diri dari bahaya narkoba, Kamis (18/12/2025).
Kegiatan bertajuk Diklat Jurnalistik dan Sosialisasi Kampanye Anti Narkoba mengambil tema ‘Pelajar Kuat, Literasi Hebat, Hidup Sehat Tanpa Narkoba’.
Kepala SMPN 1 Tulungagung, Drs Heni Hendarto MPd, menyampaikan, pelatihan ini merupakan langkah strategis untuk menjaga nama baik sekolah dan mengembangkan bakat siswa. Para peserta tidak hanya memahami cara mencari dan menyunting berita, tetapi juga mampu menjadi jurnalis yang jujur dan profesional.
“Saya berharap 80 peserta ini menjadi jurnalis terbaik. Setelah selesai, kalian harus bisa menulis, baik untuk profesi wartawan maupun tulisan di luar itu,” ujar Drs Heni Hendarto MPd, saat memberikan sambutan.

Drs Heni juga menekankan pentingnya peran BNN dalam kegiatan ini. Menurutnya, siswa SMP mulai memasuki usia rentan sehingga diperlukan pemahaman detail mengenai risiko narkoba. Ia ingin siswa menjadi ‘corong informasi’ di masyarakat yang mampu menyampaikan kebenaran.
“Anak-anak hebat ini harus terbebas dari narkoba dan kriminalitas. Hebat tanpa belajar dan mimpi tidak akan berhasil. Jika ingin juara, kalian harus berani bermimpi,” tambahnya.
Kegiatan yang diikuti oleh 80 peserta ini menggandeng Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Tulungagung untuk membekali siswa dengan kemampuan melawan narasi negatif melalui karya tulis.
Sebagai bentuk tindak lanjut, pihak sekolah berkomitmen untuk memfasilitasi karya-karya siswa yang sudah berjalan melalui majalah sekolah ‘Masikosi’.
Ia juga berharap siswa-siswi didorong untuk menghasilkan buku, baik secara mandiri maupun berkelompok, yang berisi pantun, puisi, cerpen, hingga esai tentang kehidupan sehari-hari.
“Mudah-mudahan selama dua hari sehat, dijaga pola makan seperti itu anak keluarga hebat,” tandasnya.

Senada, Plt Kepala BNNK Tulungagung, AKBP Damar Bastiar Amarapit, ST MH mengungkapkan, kemampuan menulis berkaitan erat dengan upaya pemberantasan narkotika melalui metode social engineering atau rekayasa sosial.
Damar menjelaskan di era digital, banyak narasi menyesatkan yang mempromosikan narkotika jenis baru dengan bahasa yang seolah-olah ilmiah. Di sinilah peran jurnalis pelajar diperlukan untuk mematahkan narasi tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat awam.
“Kalian akan menjadi salah satu pejuang untuk melawan narkotika melalui sebuah tulisan,” tegas AKBP Damar Bastiar.
Ia juga mengingatkan kembali sejarah kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Menurutnya, meskipun saat itu teknologi terbatas, semangat kemerdekaan bisa tersebar dari Aceh hingga Papua berkat peran wartawan mampu mengemas berita dengan menarik dan membakar semangat.
“Melalui wartawan itu menyampaikan materi sehingga menarik dan membakar semangat kemerdekaan dari Aceh ke Papua. Bagaimana wartawan memberitakan kemerdekaan Indonesia di luar negeri dengan segala keterbatasan,” ulasnya. (bahr/red)







