Jakarta, Mataraman.net – Tantangan perbankan menjelang 2026 antara optimis dan menunggu dari kebijakan pemerintah tentang anggaran. Pasalnya, daya beli masyarakat lebih berhemat dan kebijakan pemerintah akan memutar perekonomian lebih bergeliat.
Presiden Direktur dan CEO CIMB Niaga, Lani Darmawan menaruh harapan karena punya menteri keuangan yang baru, ingin memperbaiki keuangan likuiditas. Dengan capital adequacy ratio (CAR) dan loan to deposit ratio (LDR) masing-masing sebesar 24,7 persen dan 81,1 persen sudah positif.
“Saya rasa positif. Namun di hal lain juga adalah faktor daya beli. Faktor daya beli tahun ini tidak oke. Dan tahun depan prediksinya belum bisa kembali normal,” ujar Lani Darmawan di Graha CIMB Niaga Lantai 4, Kamis (11/12/2025).

Oleh karena itu, ia mengaku dampak faktor daya beli yang belum maksimal, mungkin salah satu pendukung harus adanya dialoh pemerintah dengan perbankan lewat asosiasi.
Ia mengaku seharusnya anggaran belanja negara memang harus mulai digelontorkan. Karena jika itu tidak dilakukan dari negara, maka proyek-proyek tidak ada, sampai yang menyerap tenaga kerja juga tidak ada.
“Nah ini berarti uang yang beredar yang bisa dikantongi oleh masyarakat juga sedikit sehingga daya beli menjadi kecil,” bebernya.
Lani mengaku, juga tidak semata mata hanya mendengarkan dari ekonomis. Pihaknya juga mengundang, Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas). Salah satunya untuk memberikan paparan, memang betul ternyata bahwa daya beli memang tidak dalam kondisi baik.
Perempuan yang juga sebagai Wakil Ketua Perbanas ini mengulas dari sisi retailer, terlihat perbelanjaan di masyarakat Indonesia berhemat. Ada produk shampo yang berukuran besar, saat ini masyarakat beralih ke karena memilih berhemat.
Demikian juga kemudian ke produk pasta gigi yang sebelumnya beli ukuran besar, sekarang dikatakan Lani, masyarakat cenderung membeli ukuran yang lebih kecil. Sehingga perusahaan merespons kejadian itu dengan membuat produk kecil-kecil.
“Karena kalau tidak begitu mereka tidak survive. Karena disitu masyarakat membeli eman uangnya,” ulasnya.
Ditanya realistis, Lani mengaku masih akan melihat mungkin nanti bisa dilihat setelah masuk di semester 2. Ia memikirkan di semester pertama tetap akan seperti sekarang di 2025.
Namun kembali lagi, Lani masih melihat apakah belanja negara betul-betul akan digelontorkan. Sehingga project dan juga sektor pekerja bisa maju.
Dikatakannya, sekarang dunia usaha pun 2 tahun terakhir sering kali bertemu dengan nasabah. Pihaknya ingin mendengar dari nasabah, ingin melihat bagaimana pandangan mereka dari nasabah besar korporasi sampai dengan komersial bahkan usaha menengah kecil.
“Rata-rata jawabannya sama. Bahwa mereka menunda investasi misalkan untuk memperluas pabrik atau menambah produksi itu mereka tahan dulu,” tandasnya. (bahr/red)







