Resmikan SPPG TKA PBNU, Gus Yahya: Program MBG sebagai Instrumen Demokratisasi Ekonomi

Kediri, Mataraman.net–  Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tim Koordinasi dan Akselerasi (TKA) PBNU untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah Tahap ke-5 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Dalam sambutannya, sosok yang akrab disapa Gus Yahya ini menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan agenda strategis pemerintah untuk memecah struktur pasar pangan yang selama ini bersifat oligarkis.

Gus Yahya menjelaskan saat ini pasokan bahan pangan cenderung dikuasai oleh pelaku tertentu. Namun, melalui program MBG yang digagas Presiden Prabowo Subianto, pemerintah berupaya mendorong munculnya struktur ekonomi baru yang melibatkan aktor-aktor lokal di sekitar dapur pelayanan.

“Program MBG ini bukan hanya fasilitas pemerintahan yang kita akses, ini adalah agenda pemerintah yang sangat strategis yang diperjuangkan bersama untuk memicu terbentuknya struktur ekonomi baru yang lebih demokratis bagi rakyat Indonesia,” ujar Gus Yahya di halaman Ponpes Lirboyo, Selasa (14/4/2026).

Baca Juga :  Mas Dhito-Dewi Tegaskan Belasan Program Berdasarkan Kebutuhan Masyarakat Kediri

Menurutnya, langkah ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo mengenai kedaulatan bangsa. Gus Yahya menyebutkan bahwa kedaulatan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh kapasitas militer, melainkan juga didasarkan pada tiga pilar utama.

Yaitu kedaulatan energi, pangan, dan air. Gagasan ini bahkan telah diadopsi sebagai dokumen resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menjamin ketersediaan kebutuhan dasar bagi umat manusia.

Namun, Gus Yahya mengakui bahwa implementasi program ini merupakan pekerjaan yang luar biasa berat karena menuntut transformasi menyeluruh, mulai dari hubungan sosial hingga pola pikir (mindset) masyarakat mengenai nutrisi.

“Transformasi itu pasti melibatkan tarik-ulur dan pertarungan antara hal-hal baru yang harus diadopsi dengan hal-hal lama yang terpaksa harus direlakan agar perubahan terjadi. Ini bukan pekerjaan ringan,” tuturnya.

Beliau juga menyoroti adanya dua tantangan utama dalam proses transformasi ini. Pertama adalah tantangan edukasi untuk memahamkan masyarakat agar pelaksanaan program berjalan maksimal. Kedua adalah resistensi dari pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh perubahan struktur pasar.

Baca Juga :  Damkar-Tim Medis Tangani Dua Cincin Tertutup Kulit ODGJ Trenggalek

Gus Yahya mencontohkan, struktur pasokan telur di Jawa Timur yang sebelumnya bersifat monopoli mungkin akan terganggu dengan kehadiran MBG yang memberdayakan banyak pemain lokal di daerah.

“Ketidaksetujuan dari pihak yang kepentingannya terganggu menurutnya adalah hal yang wajar dalam sebuah agenda transformasi negara,” bebernya.

Lebih lanjut, Gus Yahya menekankan pentingnya perbaikan gizi demi masa depan generasi muda. Ia mengibaratkan tantangan ini seperti kondisi kapasitas militer Indonesia yang memerlukan transformasi besar agar mampu menjaga kedaulatan di kancah global.

Menutup arahannya, Ketua Umum PBNU ini mengajak seluruh elemen bangsa untuk berkonsolidasi. Ia menegaskan bahwa perjuangan merebut masa depan yang lebih baik tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau pemimpin negara saja, mengingat luas wilayah dan besarnya populasi Indonesia yang setara dengan benua Eropa.

“Kita membutuhkan konsolidasi dari semua kekuatan bangsa ini untuk bersama bersusah-payah demi masa depan yang lebih baik bagi seluruh bangsa Indonesia,” pungkasnya. (bahr/red)

 

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles