Tulungagung, Mataraman.net – Kuantitas hasil panen tebu di Tulungagung yang menurun selama musim kemarau justru menjadi berkah bagi petani tebu. Pasalnya, kualitas hasil panen tebu justru diklaim meningkat, sehingga harganya pun turut melambung tinggi.
General Manager (GM), Pabrik Gula Modjopanggoong Tulungagung, Agus Budi Juwono mengatakan, musim kemarau panjang membawa dampak pada kuantitas tebu. Pasalnya, berat tebu di Tulungagung jistru mengalami penyusutan yang diakibatkan dampak musim kemarau.
“Jadi dampak El Nino ini menyebabkan berat tebu turun sampai 30 persen. Kondisi ini sebenarnya tidak hanya terjadi di Tulungagung saja,” kata Agus Budi Juwono, Sabtu (10/10/2026).
Meski kuantitasnya menurun, kondisi itu justru membuat kualitas tebu yang dihasilkan justru meningkat pesat. Pasalnya, rendemen hasil panen tebu pada tahun 2025 justru berada pada angka 6,5 yang disebabkan musim hujan.
Sedangkan saat ini batas rendemen rata-rata hasil panem tebu di Tulungagung mampu mencapai angka diatas 8. Agus menilai, penyusutan berat tebu itu justru membuat kandungan gulanya lebih besar dibanding kadar airnya.
“Kondisi ini bisa terjadi karena penguapan panas, sehingga pada batang tebu hanya menyisakan kandungan gulanya” ungkapnya.
Dikarenakan kadar rendemen naik, kondisi itu membuat harga tebu justru melambung tinggi yang menyentuh Rp115 ribu per kwintal. Sedangkan pada tahun 2025 kemarin, harga tebu hanya sekitar Rp80 ribu per kwintal.
Selain itu, dampak kemarau panjang juga menyebabkan petani tebu di Tulungagung terlambat memulai masa tanam tebu. Apalagi, mayoritas lahan perkebunan tebu di Tulungagung masih mengandalkan tadah hujan untuk kebutuhan air.
“Petani sebetulnya sudah punya bibit tapi tidak bisa menanam tepat waktu karena tanahnya kering. Rencananya kami akan bantu pompa irigasi,” pungkasnya.(sal/red)



