Cuaca Ekstrem, Harga Ikan Merangkak Naik di Trenggalek

Trenggalek, Mataraman.net –  Cuaca ekstrem beberapa hari terakhir membuat tangkap nelayan menurun bahkan mengurungkan niat melaut. Hal itu menyebabkan harga ikan merangkak naik di Kabupaten Trenggalek.

Seorang penjual ikan di Kecamatan Suruh, Rajimin menjelaskan, naiknya harga ikan laut mulai merangkak sejak 3 bulan yang lalu. Banyak nelayan yang tidak berani melaut karena tidak mau mengambil risiko.

“Sekarang ini ikan harganya sangat tinggi karena cuaca buruk, sebab sering badai sehingga nelayan jarang melaut. Harganya dari nelayan sudah naik dua kali lipat,” ujar Rajimin, Sabtu (12/7/2025).

Dirinya mencontohkan harga ikan layang yang sebelumnya dipatok paling tinggi Rp 12 ribu perkilogram saat ini melambung sampai Rp 20 ribu. Selanjutnya harga cumi-cumi yang sebelumnya Rp 20 ribu perkilogram, saat ini bisa Rp 40 ribu perkilogram.

Baca Juga :  Longsoran Batu di Trenggalek Sebabkan Warung Bakso Rusak

“Saat ini ikan-ikan yang jadi favorit konsumsi masyarakat seperti tongkol sulit sekali didapatkan, kalau yang tetap ada adalah ikan di laut pinggiran seperti teri,” bebernya.

Adanya fenomena tersebut, Rajimin lebih memprioritaskan untuk belanja dan menjual ikan air tawar yang stok dan harganya lebih stabil. Selain itu, ia juga bisa mengambil untung yang lebih banyak dibandingkan menjual ikan laut yang harganya sudah tinggi.

Di sisi lain, Rajimin juga menyesuaikan minat pasar yang tetap menginginkan harga yang murah untuk lauk pauknya sehari-hari.

“Masyarakat maunya kan harganya tetap murah jadi kita lebih banyak jualan gurami, mujair, bandeng,” jelas Rajimin.

Baca Juga :  Trenggalek Pilih Lokasi Sekolah Rakyat di Eks Pabrik Kopi Belanda Dilem Wilis

Ia memprediksi, paceklik ikan tersebut akan terjadi hingga bulan September 2025.

Sementara itu, nelayan Kecamatan Watulimo, Mamat mengatakan saat ini harga ikan dari nelayan memang naik. Pasalnya, banyak nelayan yang tidak melaut gegara cuaca ekstrem.

“Ikan tongkol sekarang bisa Rp 25 ribu perkilogram, padahal kalau panen raya cuma Rp 4-6 ribu perkilogram,” kata Mamat.

Mamat menuturkan, cuaca ekstrem tersebut mulai terjadi 3 bulan yang lalu dan bertambah ekstrem 2 bulan terakhir, padahal saat ini adalah musim panen ikan.

“Walaupun musim panen ikan, kita tidak berani melaut karena gelombang di tengah bisa mencapai 4-5 meter,” tandasnya. (bahr/red)

Baca Juga :  PPIH Surabaya Imbau Jemaah Haji Waspadai Cuaca Panas Ekstrem di Madinah

 

Berita Terkait

Berita Terbaru

PKS Tak Bisa Diperbarui Akibat Perubahan Regulasi, Pemkab Tulungagung Terancam Kehilangan Rp2 M

Tulungagung, Mataraman.net - Perubahan regulasi pengelolaan kawasan hutan dari Perhutani kepada Kementerian Kehutanan masih belum menghasilkan kejelasan Perjanjian Kerja Sama (PKS). Imbasnya, pemkab Tulungagung...