Tulungagung, Mataraman.net – Kelompok Tani Makmur di Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung mulai memanen tembakau. Bahkan sekali panen, kelompok tani ini mampu menghasilkan ratusan ton tembakau.
Ketua Kelompok Tani Makmur Tulungagung, Endri Cahyono mengatakan, kelompoknya mengelola lahan tanaman tembakau seluas 26 hektare. Secara keseluruhan, di Desa Kendalbulur terdapat lahan tanaman tembakau seluas 112 hektare.
“Saat ini kami sudah mulai memanen tembakau. Selama setahun, tanaman tembakau bisa dipanen satu kali saja,” kata Endri Cahyono, Selasa (15/9/2026).
Secara rinci, satu hektare tanaman tembakau mampu menghasilkan sekitar 21 ton tembakau siap panen. Dengan begitu, Kelompok Tani Makmur mampu menghasilkan sebanyak 546 tembakau pada musim panen kali ini.
Tembakau yang dihasilkan Kelompok Tani Makmur ini mayoritasnya diserap oleh pasar lokal salah satunya untuk kebutuhan rokok linting. Endri memperkirakan, hanya 10 persen dari hasil panen tembakau milik kelompoknya yang diambil pabrik rokok.
“Tembakau kami banyak yang diserap oleh pasar lokal, sehingga untuk memenuhi kebutuhan pabrik rokok hanya kami layani semampu kami atau sekitar 150 ton pertahun,” ungkapnya.
Sedangkan dari segi harga, tembakau basah dari kelompoknya dijual seharga Rp1.500 hingga Rp11.000 per kilogram. Sedangkan untuk tembakau kering, dibanderol seharga mulai dari Rp130 ribu perkilogram tergantung kelasnya.
Bahkan, harga tembakau kering itu berpotensi naik yang dipengaruhi oleh tingginya penyerapan pasar lokal dibanding pasokan ke pabrik. Endri memproyeksikan jika harga tembakau kering bisa maik hingga Rp180 ribu perkilo.
“Biasanya pasca panen raya, di bulan April atau Mei nanti harganya bisa mulai naik lagi. Kalau saat ini, harganya masih stabil segitu,” jelasnya.
Adanya musim kemarau panjang justru menjadi berkah tersendiri bagi petani tembakau di Tulungagung. Namun, ancaman justru datang dari penyakit layu Fusarium yang kerap menjangkiti tanaman tembakau.
Diketahui, penyakit ini menyebabkan tanaman menguning dan mati sebelum waktunya, sehingga kerap merugikan. Bahkan, dari total 2.000 tanaman tembakau, penyakit ini mampu menjangkiti 500 tanaman tembakau.
“Kalau serangan hama, kami bisa mengatasi dengan penyemprotan pestisida. Tetapi kalau sudah terkena penyakit ini, mau tidak mau harus segera dipanen,” pungkasnya. (sal/red)



