Tulungagung, Mataraman.net – Di tengah derasnya arus digitalisasi ekonomi yang belum sepenuhnya menyentuh sektor usaha desa, Yayasan Bima Sakti menggelar sarasehan budidaya ikan di Desa Karangrejo, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Senin (18/5/2026). Kegiatan ini tidak sekadar menjadi forum pelatihan budidaya perikanan, tetapi juga menjadi kritik terbuka terhadap masih lemahnya transformasi usaha mikro desa tanpa penguatan manajemen dan teknologi.
Sarasehan tersebut menghadirkan unsur pemerintah desa, akademisi, mahasiswa, dinas terkait, hingga pihak swasta untuk membahas persoalan klasik yang dihadapi pelaku UMKM perikanan: minim inovasi, lemahnya pemasaran, serta ketergantungan pada pola usaha konvensional.
Dalam kegiatan itu, peserta mendapatkan edukasi mengenai teknik budidaya ikan sehat dan berkelanjutan, mulai dari pengelolaan kolam, pemilihan pakan, hingga strategi menjaga kualitas produksi agar memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar.
Namun, yang menjadi sorotan utama adalah dorongan transformasi digital bagi pelaku usaha perikanan desa. Yayasan Bima Sakti menilai banyak UMKM lokal belum mampu memanfaatkan teknologi sebagai alat pengembangan usaha, padahal pasar digital terus berkembang cepat dan kompetitif.
Manajer Yayasan Bima Sakti, M. Adistiya Dwi Kurniawan, menegaskan bahwa bantuan modal tanpa penguatan kapasitas hanya akan melahirkan ketergantungan baru di masyarakat.
“Program ini bukan hanya tentang bantuan tunai. Kami ingin masyarakat desa mampu membangun usaha yang profesional, mandiri, dan berkelanjutan. Digitalisasi menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, program tersebut mencakup pelatihan digital marketing, penggunaan aplikasi usaha, hingga pemanfaatan layanan daring yang bekerja sama dengan sektor swasta. Pendampingan juga akan dilakukan secara bertahap agar masyarakat tidak berhenti pada tahap produksi semata.
Menurutnya, banyak usaha desa gagal berkembang bukan karena kurang potensi, melainkan lemahnya pencatatan keuangan, manajemen usaha, dan akses pemasaran.
“Kami ingin pelaku UMKM desa memahami bahwa produk bagus saja tidak cukup. Mereka harus mampu membaca pasar, mengelola usaha secara tertib, dan masuk ke ekosistem digital,” katanya.
Selain edukasi, yayasan juga menyalurkan bantuan tunai sebagai stimulus modal usaha bagi kelompok masyarakat yang bergerak di bidang budidaya ikan. Bantuan tersebut diharapkan menjadi pemicu lahirnya usaha perikanan yang lebih produktif dan kompetitif.
Sementara itu, panitia kegiatan, Soleh Andri Awan, menyebut antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa warga sebenarnya memiliki semangat berkembang, namun selama ini belum banyak mendapatkan akses pelatihan yang berkelanjutan.
“Partisipasi warga sangat luar biasa. Mereka membutuhkan ruang belajar seperti ini agar mendapatkan pengetahuan baru dan bisa saling memperkuat antar-kelompok masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap program serupa tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan benar-benar dikawal hingga memberi dampak ekonomi nyata bagi keluarga warga desa.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Desa Karangrejo, Camat Boyolangu, perwakilan Dinas Perikanan dan Dinas Sosial Kabupaten Tulungagung, akademisi dan mahasiswa UIN Tulungagung, serta pihak swasta. Sementara Plt. Bupati Tulungagung yang sebelumnya dijadwalkan hadir diwakilkan karena agenda pemerintahan lainnya.
Di tengah tantangan ekonomi desa yang semakin kompleks, sarasehan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan UMKM tidak cukup hanya berbicara bantuan modal. Tanpa peningkatan literasi digital, manajemen usaha, dan keberlanjutan pendampingan, banyak usaha kecil desa berisiko tertinggal di tengah persaingan ekonomi modern. (sna/red)



