Safari Ramadan MWCNU Besuki, Kiai Ghufron Ajak Jemaah Perkuat Pendidikan Diniyah-Tradisi Nahdliyin

Tulungagung, Mataraman.netMajelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Besuki menghelat kegiatan Safari Ramadan ke ranting-ranting. Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antara pengurus struktural dengan jamaah kultural di tingkat dusun.

Kali ini kegiatan bertempat di Mushala Baitussalam, Desa Wateskroyo. Hadir dai Kiai Ghufron yang memberikan pesan mendalam mengenai pentingnya menjaga amanah keluarga dan menghidupkan kembali tradisi pendidikan agama sejak dini.

Menurutnya, pendidikan thaharah (bersuci) dan dasar-dasar agama harus diberikan secara langsung melalui contoh nyata, bukan sekadar lisan.

“Untuk tumbuh kembang putra-putri kita tidak cukup hanya dinasihati dengan lisan, tetapi juga harus diberi contoh. Anak itu identik dengan melihat. Jika orang tuanya menunjukkan adab yang baik saat waktu salat tiba, anak akan mengikutinya,” jelasnya.

Kiai Ghufron Ajak Jemaah Perkuat Pendidikan Diniyah-Tradisi Nahdliyin
Jemaah Mushala Baitussalam, Desa Wateskroyo. (and)

Lebih lanjut, ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap mulai lunturnya tradisi mengaji di langgar atau pondok pesantren salaf.

Kiai Ghufron menegaskan bahwa melalui Madrasah Diniyah dan TPQ, anak-anak akan mengenal sanad keilmuan yang jelas hingga ke Baginda Nabi Muhammad SAW. Hal ini dianggap krusial agar generasi mendatang mampu mendoakan orang tua mereka dengan benar sesuai ajaran agama.

Baca Juga :  Turnamen E-Sport MLBB, Rizki Sadig Harap Jadi Wadah Kreatif di Dunia Daring

“Alangkah sedihnya jika anak kita tidak bisa membaca Al-Quran. Jangan sampai ketika orang tua meninggal, anak hanya bisa membacakan pesan WA atau memutar YouTube karena tidak mampu bertadarus. Mari kita ramaikan kembali TPQ dan Madrasah Diniyah,” tegas Kiai Ghufron dalam kalimat langsungnya.

Kiai Ghufron memaparkan kehadiran jajaran pengurus MWCNU, mulai dari Syuriah, Tanfidziyah, hingga badan otonom (Banom) seperti Ansor, Banser, LAZISNU, PSNU Pagar Nusa dan LDNU, merupakan upaya membangun jembatan komunikasi yang kokoh di tingkat akar rumput. Ia berharap pertemuan tersebut menjadi perantara (wasilah) turunnya keberkahan dari Allah SWT bagi seluruh jamaah.

“Semoga silaturahmi ini menambah keberkahan umur, rezeki, hingga keberkahan dalam keluarga. Istri yang berkah adalah mereka yang selalu mendukung kegiatan atau amaliah suaminya, terutama dalam urusan ubudiyah menegakkan akidah Ahlussunnah wal Jamaah,” ujar Kiai Ghufron di hadapan jamaah.

Baca Juga :  Yusak, Kader Ansor Istikamah Berkhidmat 25 Tahun Berpulang

Tak lupa beliau mengingatkan para orang tua agar senantiasa bersyukur atas amanah berupa putra-putri. Ia menyoroti fenomena zaman sekarang di mana anak-anak lebih lekat dengan gawai (gadget) dan warung kopi dibandingkan dengan musala atau langgar.

Menutup ceramahnya, Kiai Ghufron mengajak seluruh jamaah Nahdlatul Ulama (Nahdliyin) di Watusuroyo untuk menghidupkan kembali amaliah khas seperti Yasinan dan pembacaan kitab Berzanji (Barjanjen) yang kini mulai jarang terdengar. Ia menyebut jamaah adalah benteng pertahanan bagi tegaknya Nahdlatul Ulama dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Mari kita hidupkan kembali tradisi lama yang baik ini demi memakmurkan tempat ibadah kita. Insyaallah, jika amaliah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah tetap terjaga, Indonesia akan tetap berdiri tegak,” pungkasnya. (bahr/red)

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button