Wagub Emil Ikuti Lebaran Ketupat di Durenan Trenggalek, Tradisi Sudah 2 Abad

Trenggalek, Mataraman.net – Tradisi ‘Kupatan’ atau Lebaran Ketupat 2026 h+7 sudah berjalan 2 abad lebih tetap lestari di Desa/Kecamatan Durenan Trenggalek. Wakil Gubernur (wagub) Jawa Timur, Emil Dardak ikut Lebaran Ketupat bersama Arumi Bachsin. Tepatnya di Pondok Pesantren Babul Ulum.
Rombongan mengikuti seremonial pemberangkatan arak-arakan Tumpeng Ketupat. Usai didoakan oleh KH Abdul Fattah Mu’in, Festival Ketupat mulai berjalan dan finish di Lapangan Durenan yang hanya berjarak beberapa ratus meter.
Emil Dardak menjelaskan, kegiatan silaturahmi di kampung halaman Trenggalek memang rutin dilakukan. Khususnya di kediaman dari almarhumah Eyang Dardak atau nenek dari Wagub Emil.

Termasuk hadir di momen istimewa bagi warga Trenggalek adalah ketepatan Hari Raya Ketupat. Emil mengaku kalau Salat Idulfitri biasanya harus di bertugas di Masjid Al-Akbar bersama Ibu Gubernur Khofifah Indar Parawansa, kemudian lanjut di Grahadi.
“Maka yang momen paling pas ke Trenggalek justru waktu kupatan. Jadi kami semalam sudah bersilaturahmi dengan warga di Kelurahan Ngantru. Alhamdulillah pagi ini bisa bertemu dengan keluarga Almarhum Mbah Mesir. Sekaligus tadi menyaksikan pemberangkatan pawai kupatan,” ujar Emil Dardak kepada awak media, Sabtu (28/3/2026).
Emil menekankan pentingnya melestarikan tradisi ini sebagai identitas budaya yang kuat di Jawa Timur. Menurutnya, warisan ini tidak boleh putus dari akarnya karena melibatkan lintas generasi, termasuk cucu dari KH Abdul Fattah Mu’in yang masih balita.
Ia menilai konsistensi masyarakat dalam menjaga adat ini sebagai bukti keteguhan kultur pondok pesantren, terutama bagi garis keturunan Bani Mesir yang kini tersebar di berbagai wilayah.
“Ini yang membuat kita tidak putus dari akar. Baik itu kaitannya dengan kultur pondok pesantren di Jawa Timur maupun silsilah Bani Mesir yang sudah meluas ke mana-mana, bahkan hingga Jawa Tengah,” imbuhnya.
Sementara itu, perwakilan keluarga besar Pondok Pesantren Babul Ulum, Gus M. Haidar menjelaskan sejarah panjang di balik tradisi Lebaran Ketupat di Durenan. Ia memaparkan bahwa tradisi ini bermula dari kebiasaan kakek buyut mereka, KH Mesir (Mbah Mesir).
Gus Haidar menceritakan pada hari pertama Idul Fitri, Mbah Mesir biasanya diundang oleh Adipati ke pendopo kabupaten. Setelah itu, beliau langsung melaksanakan ibadah puasa sunah Syawal selama enam hari berturut-turut, mulai dari hari kedua hingga hari keenam Lebaran.
“Karena beliau melaksanakan puasa Syawal, maka open house bagi para santri, alumni, dan masyarakat baru diadakan pada hari kedelapan atau H+7. Di situlah mereka sowan untuk berlebaran dan saling memaafkan,” jelasnya.
Hingga saat ini, tradisi tersebut tetap terjaga dan justru berkembang pesat di masyarakat sekitar. Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol kemenangan setelah berpuasa sunah, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi dan sosial bagi warga Trenggalek.
Sebelum menghadiri puncak acara di Durenan, Wagub Emil Dardak juga menyempatkan diri meninjau sektor ekonomi lokal dengan mengunjungi pabrik pengolahan filat ikan patin yang berada di Desa Kedunglurah. (bahr/red)



