Tulungagung, Mataraman.net – Pembina Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, menyoroti penurunan efektivitas penanganan konflik antarperguruan silat di wilayahnya. Pihaknya menilai peran kepolisian sektor (Polsek) sebagai garda terdepan dalam menjaga kondusivitas kini mulai memudar akibat minimnya deteksi dini dan jarak komunikasi dengan para tokoh pesilat.
Pembina Pagar Nusa Besuki Imam Rojikinn menyatakan, saat ini terdapat perbedaan signifikan dalam pola penanganan perkara dibandingkan masa-masa sebelumnya. Menurutnya, dahulu pihak kepolisian sangat proaktif dalam menyisir titik kumpul oknum perguruan silat guna mengantisipasi adanya arus balik atau serangan balasan pasca-insiden.
“Deteksi dini yang saya keluhkan itu, saat ini di Besuki kurang. Kedua, terkait penanganan ketika sudah terjadi korban, baik itu penganiayaan maupun pelemparan, mediasinya sangat lama bahkan memakan waktu berjam-jam,” ujarnya saat memberikan keterangan, Minggu (18/1/2026).
Ia menambahkan, lambatnya proses mediasi justru berisiko memicu konflik sosial yang lebih luas. Idealnya, pihak kepolisian segera mengambil langkah preventif dengan mengundang para tokoh perguruan ke Markas Komando (Mako) Polsek untuk mencari solusi jalan tengah agar permasalahan tidak membias.
Selain masalah kecepatan penanganan, Rojikin juga menyoroti renggangnya hubungan antara Pejabat Utama (PJU) Polsek Besuki dengan para tokoh pencak silat.
Ia menilai para pejabat yang memiliki kewenangan, seperti unit Reskrim, terkesan jauh dari akar rumput sehingga kurang memahami kultur lokal dalam penyelesaian masalah melalui restorative justice.
“Cara menyelesaikan itu harus cara Besuki. Yang saya keluhkan saat ini, PJU Polseknya jauh dengan tokoh-tokoh perguruan silat. Mungkin karena estafet kepemimpinan yang berbeda,” lanjutnya.
Ia pun membandingkan dengan kepemimpinan masa lalu yang dinilai lebih taktis dan akuntabel. Dahulu, ketika terjadi insiden akibat konvoi atau gesekan lainnya, para tokoh dari berbagai perguruan seperti PSHT dan Pagar Nusa langsung dipertemukan.
Bahkan, antarperguruan memiliki tradisi memberikan sumbangsih bela sungkawa kepada korban sebagai simbol kerukunan.
“Simbol kerukunan paguyuban silat Kecamatan Besuki itu sempat menjadi barometer dari 19 kecamatan yang ada di Tulungagung. Namun saat ini, hal itu sedikit demi sedikit mulai punah,” tegasnya.
Menurutnya, kondisi ini diperparah oleh adanya oknum Aparat Penegak Hukum (APH) yang dinilai kurang bergaul dengan para pendekar, sehingga tercipta sekat komunikasi yang membuat penyelesaian masalah menjadi rumit dan sering kali harus ditarik ke tingkat Polres.
Pria yang juga sebagai Ketua Pokdarwis Pantai Gemah ini mengaku menaruh harapan besar kepada Kapolres Tulungagung yang baru. Ia berharap pimpinan kepolisian dapat menempatkan personel yang tepat dan memahami kultur wilayah, khususnya di Kecamatan Besuki.
“Mudah-mudahan dengan Kapolres baru ini, akan ditaruh sosok-sosok yang tepat sehingga tidak terjadi hal-hal yang menimbulkan korban terkait pergesekan antarperguruan silat,” pungkasnya. (bahr/red)







