Jamaah Masjid Nurul Hidayah Diajak Tingkatkan Syukur-Takwa di Bulan Ramadan

Tulungagung, Mataraman.net – Warga dan jamaah antusias mengikuti Safari Ramadan yang diadakan oleh MWCNU Besuki Tulungagung. Dai yang mengisi maidhoh hasanah menekankan pentingnya memaknai rasa syukur secara nyata serta memanfaatkan momentum Ramadan untuk meraih ampunan Allah SWT.

Acara yang dihadiri oleh jajaran Syuriah dan Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Besuki, pengurus ranting, serta tokoh masyarakat ini menjadi sarana penguatan spiritual bagi warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani.

Dalam ceramahnya, Kiai Zainuddin mengingatkan bersyukur tidak cukup hanya dengan ucapan lisan. Berdasarkan kitab Maulidatul Mukminin, seseorang baru dikatakan benar-benar bersyukur jika mampu mendayagunakan nikmat yang diberikan Allah untuk hal-hal yang diridai-Nya.

“Syukur itu tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan. Kita belum dikatakan bersyukur kepada Allah jika belum menggunakan nikmat yang diberikan-Nya untuk hal-hal yang diridai oleh-Nya,” ujar Kiai Zainuddin, Selasa (10/3/2026).

Ia mencontohkan bahwa kesehatan yang dimiliki seharusnya digunakan untuk melangkahkan kaki ke masjid guna beribadah. Selain itu, ia juga menyoroti syukur atas hasil bumi seperti panen jagung dan durian. Hasil panen tersebut agar warga tidak lupa mendistribusikan atau mentasyarufkan sebagian hasil panen kepada mereka yang berhak.

Baca Juga :  Dirlantas Polda Jatim Klaim Ops Patuh Semeru 2024 Tekan Angka Kecelakaan 20 Persen

“Kita harus bersyukur jika diberi rezeki lebih oleh Allah dengan cara membagikan sebagian kepada mereka yang berhak. Jangan sampai hasil tersebut hanya kita nikmati sendiri, sebab kelak semuanya akan dimintai pertanggungjawaban,” tambahnya.

Kiai Zainuddin memaparkan bersedekah atau beramal jariyah untuk fasilitas masjid merupakan investasi akhirat yang akan menambah kenikmatan dari Allah SWT.

Sebaliknya, ia memperingatkan tentang bahaya kufur nikmat, yakni ketika seseorang merasa keberhasilannya murni karena kerja keras pribadi tanpa campur tangan Tuhan.

Terkait momentum Ramadan, jamaah diingatkan bahwa saat ini umat Islam sedang berada pada fase kedua, yakni fase maghfirah atau ampunan, setelah melewati sepuluh hari pertama yang penuh rahmat.

Baca Juga :  Sempat Tertahan Konflik Iran-AS, Bupati Trenggalek Dijadwalkan Tiba di Tanah Air Hari Ini

Ia mengajak jamaah untuk bersiap menyongsong sepuluh hari terakhir guna memburu keutamaan malam Lailatulqadar.

“Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Mari kita manfaatkan malam-malam ganjil dengan memperbanyak ibadah dan sedekah dengan niat yang tulus karena Allah Ta’ala,” tuturnya.

Menutup ceramahnya, Kiai Zainuddin mendoakan agar seluruh jamaah, termasuk putra-putri yang sedang belajar di pesantren maupun sekolah umum, diberikan keberkahan dan ilmu yang bermanfaat.

Beliau juga berharap agar semangat perjuangan para pendahulu Nahdlatul Ulama, seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah, tetap terjaga dalam sanad keilmuan para jamaah di Sedayugunung.

“Segala kemudahan yang kita rasakan saat ini juga tidak lepas dari perjuangan para pendahulu NU. Kita harus mengikuti jejak mereka dalam berjuang dan belajar agama, karena ilmu mereka bersambung hingga ke Rasulullah SAW. Semoga kita semua dikumpulkan bersama para ulama di surga kelak,” tandasnya. (bahr/red)

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button