Bahtsul Masa’il Kubro se-Jawa Timur di Tulungagung Bahas Kontroversi Pelaksanaan Badal Haji

Tulungagung, Mataraman.net – Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Tulungagung sukses menggelar Bahtsul Masail Kubro se-Jawa Timur dan sekitarnya pada Kamis (18/06/2026).

Forum ilmiah yang bertepatan dengan 2 Muharram 1448 Hijriah ini dipusatkan di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin (PPHM) Asrama Sunan Gunung Jati, Ngunut, Tulungagung, dengan bahasan ‘Kontroversi Pelaksanaan Badal Haji.

Bahtsul Masa'il Kubro se-Jawa Timur di Tulungagung Bahas Kontroversi Pelaksanaan Badal Haji
Bahtsul Masa’il Kubro membahas kontroversi pelaksanaan badal haji. (ist)

Antusiasme peserta terbilang sangat tinggi. Tercatat sebanyak 247 peserta hadir meramaikan forum. Mereka terdiri atas 156 utusan pondok pesantren dan 101 perwakilan LBM Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) serta LBM PCNU dari berbagai daerah di luar Tulungagung.

Kehadiran ratusan musyawirin ini menegaskan kuatnya komitmen warga Nahdliyin dalam menjaga tradisi intelektual pesantren demi mengurai problematika umat.

Ketua LBM PCNU Tulungagung, KH M. Syafi’ Mukarrom, mengungkapkan rasa syukur dan bahagianya atas terselenggaranya acara ini dengan dihadiri banyak peserta.

Beliau menjelaskan bahwa kajian ini merupakan tindak lanjut dari amanat organisasi.

“Lembaga Bahtsul Masail PCNU Tulungagung ini agenda rutinnya setiap selapan sekali, yaitu pada Sabtu Pahing. Namun, forum kubro kali ini digelar karena adanya rekomendasi dari hasil Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) ke-2 PCNU kemarin,” ujar Kiai Syafi’.

Baca Juga :  Jemaah Haji Asal Tulungagung Tiba di Tanah Air, Disambut Haru di Asrama Haji Surabaya

Menurutnya, tema badal haji atau haji amanah sengaja diangkat karena menjadi persoalan riil yang krusial di tengah masyarakat.

“Kami membahas masalah yang sering diperbincangkan, tetapi kadang-kadang orang sungkan untuk membahasnya. Padahal, jawaban fikih terkait haji amanah atau haji badal ini sudah sangat dinanti-nantikan oleh masyarakat,” imbuhnya.

Kiai Syafi’ juga menambahkan pihaknya telah membangun komunikasi dengan kementerian terkait untuk menyalurkan hasil rumusan dari forum ini.

“Kami kemarin sempat berkomunikasi dengan kementerian haji, dan nanti insyaallah hasilnya akan kita sampaikan sebagai rekomendasi kepada kementerian haji,” tuturnya.

Apresiasi senada disampaikan oleh Rais Syuriyah PCNU Tulungagung, KH Muhson Hamdani, Ia menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada shahibul bait PPHM Sunan Gunung Jati serta seluruh jajaran LBM lintas tingkatan yang hadir.

“Alhamdulillah, siang hari ini Bahtsul Masail kita yang akan memberikan justifikasi hukum jenjangnya pas. Mulai dari Pengurus Besar, Pengurus Wilayah, hingga Pengurus Cabang semuanya ada,” ungkap Kiai Muhson.

Baca Juga :  Perkuat Khidmah Santri, Ansor Balerejo Gelar Ngaji Kitab Kuning Fathul Qarib 

Ia menilai, dinamisnya regulasi dan pelaksanaan ibadah haji menuntut respons hukum yang cepat dan kontekstual. Ibadah haji memiliki dinamika yang akan terus berkembang dan tidak mungkin berhenti.

Hal itu terjadi karena jumlah jemaah haji selalu bertambah, sementara ruang di Makah dan kesucian tempat manasik tidak bisa diperluas.

Melalui momentum ini, Kiai Muhson berharap forum ilmiah ini tidak sekadar melahirkan keputusan hukum, tetapi juga mempererat ikatan emosional antargenerasi ulama muda NU.

“Mudah-mudahan ini menjadi bagian untuk merajut ukhuwah Nahdliyyah, persaudaraan Nahdlatul Ulama yang zahiran wa batinan yang dikemas dalam acara Bahtsul Masail,” harapnya.

Urgensi pembahasan badal haji ini juga divalidasi oleh kesaksian para pelaku lapangan. Salah satu peserta basthul masail, Ustadz Bustomi, membagikan pengalamannya selama mukim delapan tahun di Makah dan telah menunaikan ibadah haji sebanyak lima kali.

Baca Juga :  Tulungagung Jadi Tuan Rumah MTQ XXXII Jawa Timur di 2027 Mendatang

Ua memberikan gambaran riil mengenai perubahan lanskap aturan di Arafah.
Ustadz Bustomi menceritakan sebelum tahun 2025, akses masuk ke Arafah tanpa menggunakan tasrih (surat izin resmi atau permit) relatif masih bisa diupayakan.

Meskipun pemerintah Arab Saudi sejak lama sudah memasang maklumat la hajja bila tasrih (tidak ada haji tanpa izin) di sepanjang jalan, aturan tersebut masih kerap dilewati oleh sebagian jemaah.

Namun, situasi tersebut berubah total dalam dua tahun terakhir. Menurut Ustadz Bustomi, setelah tahun 2025, Pemerintah Arab Saudi menerapkan sistem pengamanan dan pemeriksaan yang sangat ketat.

“Jangankan masuk ke Arafah, mendekat pun sekarang sudah tidak bisa,” tegasnya.

Melalui gelaran Bahtsul Masail Kubro se-Jawa Timur ini, LBM PCNU Tulungagung tidak hanya sukses menghadirkan ruang dialektika yang dinamis.

Melainkan juga membuktikan tradisi akademis pesantren selalu siap menjawab tantangan zaman dan memberikan kepastian hukum berbasis khazanah turats demi kemaslahatan umat. (qil/red)

 

 

Berita Terkait

Berita Terbaru

LWPNU Tulungagung Tembus Lima Besar Nasional Capai 1.885 Sertifikasi Wakaf

Tulungagung, Mataraman.net -  Lembaga Wakaf dan Pertanahan Nahdlatul Ulama (LWPNU) Tulungagung kembali menorehkan capaian penting dalam gerakan percepatan sertifikasi tanah wakaf hingga mencapai posisi...