Landak-Monyet Ekor Panjang Dilindungi Masih Terjaga di Huko Trenggalek

Trenggalek, Mataraman.net –  Keanekaragaman hayati (kehati) di Hutan Kota (Huko) Trenggalek masih terjaga. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Wilayah 1 Kediri memasang kamera trap, tertangkap kamera sepasang Landak Jawa hingga monyet ekor panjang yang dilindungi.

Polisi Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah I Kediri, BBKSDA Jawa Timur, Ahmad David Kurnia Putra mengatakan pemasangan kamera trap di hutan kota ini awalnya bertuujuan untuk mengetahui target burung paok pancawarna endemik Jawa dan Bali yang dilindungi oleh undang-undang.

“Itu sebagai salah satu nanti atraksi untuk wisata bird watching. Setelah 1 Minggu Pengamatan hari ini kita periksa ternyata masih belum ketemu paok pancawarnanya,” ujar Ahmad David Kurnia Putra, Senin (2/2/2026).

Landak-Monyet Ekor Panjang Dilindungi Masih Terjaga di Huko Trenggalek
Polisi Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah I Kediri, BBKSDA Jawa Timur di Huka Trenggalek. (bahr)

Om Dev, sapaan akrab David ini mengaku meskipun belum menemukan burung itu, merasa senang. Ada banyak aneka satwa yang juga dilindungi terekam kamera yang menggunakan sensor gerak sedang melintas.

“Kita juga senang karena masih bertemu dengan 1 pasang landak Jawa atau hystrix javanica dan statusnya juga dilindungi oleh undang-undang,” tambahnya.

Pria asal Tuban yang berkarir di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sejak tahun 2009 sebagai Polisi Kehutanan di Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata Maluku Utara ini juga mengatakan masih terdapat Monyet Ekor Panjang dan Musang Pandan.

Baca Juga :  Hamparan Sampah Ancam Pariwisata Pantai Selatan di Tulungagung, Perhutani Angkat Bicara

“Yang mengejutkan juga ternyata masih ada satu individu monyet ekor panjang yang tertangkap kamera juga,” paparnya.

Om Dev mengakui di hutan kota ini bisa dianggap sebagai hutan kota atau kawasan terbuka hijau di Trenggalek yang masih seimbang ekosistemnya. Mulai dari burung hingga mamalia sebagai penyeimbang ekosistem di hutan.

“Satu lagi ada pemangsa segala, Musang Pandan tertangkap kamera trap itu juga sebagai penyeimbang ekosistem,” jelasnya.

Lulusan program Diploma III Manajemen Hutan Produksi di Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor pada tahun 2006 ini menjelaskan Burung Paok Pancawarna yang menjadi tujuan sebenarnya sudah masuk hasil inventarisasi keanekaragaman hayati di hutan Kota Trenggalek dan sehari-hari juga terdengar suaranya.

“Hanya saja memang kita belum dokumentasikan. makanya kita taruh kamera trap. Saya melihatnya dua kali di sini tetapi tidak sempat foto karena dia jalan lebih cepat dan saya masih menggendong kamera,” tandasnya.

Baca Juga :  Harlah ke-93 Pagar Nusa SPKM, Imam Rojikin Ajak Santri Perkuat Khidmah-Kedekatan dengan Kiai

Kepala Bidang Peningkatan Daya Tarik dan Destinasi Pariwisata Disparbud Trenggalek, Tony Widianto menerangkan hasil pengamatan BBKSDA Jatim dari dinas kini merupakan hal yang menggembirakan.

Pasalnya, Pemkab Trenggalek sebenarnya ingin memulai sebagai salah satu edukasi lingkungan. Ternyata didukung data dari hasil BBKSDA Jatim dalam rangka inventarisasi keanekaragaman hayati yang ada di Trenggalek tepatnya di hutan kota.

“Ternyata juga menurut ketentuan BBKSDA dan tim memiliki kehati yang cukup tinggi. Sehingga saya merasa ini juga bisa menambah daya tarik wisata menambah untuk edukasi lingkungan kepada masyarakat utamanya siswa,” beber Tony Widianto

Tony mengajak untuk berkolaborasi dengan semua pihak, salah satunya BBKSDA dalam rangka mengembangkan wisata edukasi di hutan kota. Dari sisi konservasi satwa liar, ingin mengajak seluruh masyarakat untuk terlibat aktif dalam menjaga melestarikan keanekaragaman hayati di hutan kota khususnya Trenggalek pada umumnya.

“Sehingga kita itu bisa melindungi anugerah yang Maha Kuasa. Alhasil bisa dinikmati oleh anak cucu kita nanti,” pungkasnya. (bahr/red)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button