Trenggalek, Mataraman.net – Kabut gerimis menyelimuti Desa Ngrandu Kecamatan Suruh Kabupaten Trenggalek, Kamis (4/12/2025) petang. Namun puluhan korban tanah gerak akhirnya bisa tersenyum lega. Pasalnya puluhan Kepala Keluarga (KK) telah bisa menempati hunian sementara (Huntara).
Peresmian Huntara Kinasih Indah Persada (KIP) ini langsung dihadiri oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa beserta rombongan dari Pemprov Jatim. Gubernur menyampaikan, ini sifatnya sementara, kalau nanti misalnya pada saat tertentu ada keinginan menjadi hunian tetap, ada proses untuk renovasi rumah sebagai hunian tetap.
“Ini ada kaitannya dengan kepemilikan lahan, dikoordinasikan dengan Pak Bupati dan kawan kawan. Daerahnya sangat strategis, dekat dengan jalan raya, dekat dengan perkampungan,” ujar Khofifah Indar Parawansa kepada awak media.

Khofifah mengapresiasi huntara ini diresmikan sudah ada masjid hingga ada kandang kambing komunal. Ia merasa ini bisa memberikan harapan kepada mereka yang ada di huntara.
Yaitu ada pilihan untuk bisa melanjutkan kegiatan ekonomi bagi warga yang terdampak tanah gerak. Juga masih ada lahan di belakang bisa dipakai untuk sayur, menanam berbagai macam tanaman yang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar.
“Sehingga ketika dijual marketnya dapat dan yang menarik itu kandang komunal. Karena kambing di belakang itu ternyata sudah bisa dimanfaatkan pada usia 3 bulan,” bebernya.
Alumnus Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini menilai jangka pendek perputaran hewan kambing dan kebun bisa menjadi solusi. Sebagai penambahan pemasukan bagi warga korban tanah gerak.
“Jadi rasanya siklusnya bisa lebib cepat memberikan income kepada masyarakat. Terutama khususnya yang ada di Huntara,” paparnya.
Gubernur tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak. Termasuk gerak cepat Pemkab Trenggalek, Perhutani, Camat, Desa hingga Forkopimda. Karena memang wilayah Indonesia dan Jawa Timur ini pada posisi on fire terhadap bencana.
“Jadi kewaspadaan harus dibangun oleh semuanya, dan antisipasi mitigasi haris dilakukan oleh semuanya,” tandasnya.
Senada, Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Jawa Timur dan seluruh pihak. Sebab di Desa Ngrandu beberapa waktu lalu terjadi bencana tanah longsor dan saat ini sudah diresmikan oleh Provinsi Jatim.
“Bukan hanya memberikan hunian, namun perbaikan infrastruktur juga aspal dan lain sebagainya. Segera akan kita kerjakan semoga cepat kita kerjakan,” ulas Mochamad Nur Arifin.
Mas Ipin, sapaan akrabnya menambahkan untuk kebutuhan pokok masyarakat, pihaknya telah membuat langkah strategis. Lahan yang tidak dibuat bangunan digunakan untuk kebun dan juga untuk kandang komunal.
“Harapannya ini menjadi ekonomi warga. Karena yang kita berikan bibitan yang bagus, dari Australia 3 bulan sudah bisa dipanen karena beratnya 30 kg sudah bisa mempercepat bisa dijual,” tambahnya.
Ia mengaku memilih relokasi ini dengan pertimbangan, pertama tanah yang lebih aman. Sebab vegetasi di sekitar huntara masih cukup rapat. Sehingga kejadian serupa tidak akan terjadi lagi.
Kedua, jarak ke rumah warga yang terdampak tidak terlalu jauh. Sehingga warga tidak tercerabut dari asal daerahnya yang sudah ditempati sejak kecil.
“Akhirnya bisa selesai dan ini juga tidak terlalu jauh dari perkampungan yang lain. Sehingga masyarakat tidak terdisasosiasi, tetap bisa berkumpul dengan keluarganya yang lain,” harapnya.
Tak lupa, Wakil Ketua APKASI ini juga berterima kasih ke BAZNAS dan dari Pramuka. Pasalnya, beberapa waktu lalu masih peletakan batu pertama dan saat ini masjid sudah bisa dimanfaatkan.
“Terima kasih semoga ini menjadi semangat baru bagi warga untuk bisa kembali,” tandasnya.
Sementara salah satu warga, Darmi (46) mengaku senang. Dengan adanya Huntara, masyarakat yang terdampak tidak merasa was-was ketika turun hujan deras. Meski hanya kecil, namun layak digunakan untuk tempat tinggal sementara.
“Senang. Sebelumnya tinggal di rumah sendiri dengan keadaan begitu jadi was-was,” akui Darmi.
Pengamatan pewarta, kondisi huntara hanya berjarak sekitar 200-an meter dari jalan nasional. Namun harus masuk ke gang, dan tidak bisa untuk berpapasan kendaraan roda 4.
Lokasinya terbilang luas, sebab dahulu merupakan tanah lapangan. Di bawah terdapat area perkebunan yang tidak terlalu curam, sehingga minim longsor. (bahr/red)







