Wagub Emil Tinjau Longsor Jalan Nasional Trenggalek-Ponorogo, Ini Langkah Darurat yang Diambil

Trenggalek, Mataraman.net –  Longsor batu raksasa yang terjadi di Jalan Raya Nasional Trenggalek-Ponorogo KM 16, masuk Desa Nglinggis Kecamatan Tugu, Trenggalek berhasil dievakuasi. Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak ikut meninjau langsung dan memberikan arahan assessment sesuai hasil dari ahli geologi maupun dari Balai Besar Jalan Nasional (BBJN).

Wagub meminta dukungan dari segenap pengguna jalan bahwa yang tengah dihadapi ini merupakan berurusan dengan tebing yang sangat-sangat beresiko. Sehingga meminta untuk tidak memaksakan diri untuk melintas, karena masih dalam penanganan.

“Sehingga kehati-hatian menjadi hal yang paling utama dalam penanganan situasi ini. Batu telah dibersihkan,” ujar Emil Dardak di lokasi, Kamis petang (5/3/2026).

Emil menambahkan ada dua batu besar, yang satu ada di badan jalan sudah dipecah dan dibersihkan dari badan jalan. Akan tetapi badan jalan mengalami hantaman yang sangat keras dari jatuhnya batu tersebut.

Lalu, ada satu batu lagi yang sempat menggantung di pinggir jalan, di ujung tebing yang bagian jalan atau bahu jalan. Sehingga oleh pihak Bina Marga dievakuasi pada tempat yang datar, Kalau tidak ditaruh di tanah dasar, dia akan ikut menarik dan memberatkan jalan ini.

“Sehingga kan jalan kita ini kan berada di pinggir tebing. Jadi ikut diseret dengan adanya batu itu, itu yang segera diamankan oleh beliau,” ulasnya.

Politikus Partai Demokrat ini menegaskan langkah darurat yang diambil untuk menghindari kerusakan yang lebih parah, bahkan perbaikannya jadi tambah susah melakukan penanganan.

Baca Juga :  Emil Apresiasi Gebrakan Bupati Kediri-Trenggalek Dukung Beroperasinya Bandara Dhoho

Yang kedua, Emil mengaku bersyukur tembok ini yang dibangun di zaman 2017 saat dirinya menjadi Bupati Trenggalek sangat kuat. Betul-betul terbukti membawa dampak yang positif untuk mencegah kerusakan yang dahsyat terhadap rute ini.

“Namun demikian tidak kita pungkiri ada titik-titik yang terdampak. Bahasanya lagi-lagi bahasa Jawanya gumpil ya. Bahasa Jawa terus ya gumpil. Jadi tapi gumpil ini juga tanda baik bahwa struktur ini kokoh,” akuinya.

Suami Arumi Bachsin ini menerangkan untuk perbaikan bukan dibongkar, tapi di patching atau ditambal disulam lagi baja-baja. Sehingga ini bisa memberikan kekuatan.

“Namun demikian teman-teman dari Kabupaten punya long arm alat berat yang jangkauannya panjang. Ini sudah mulai digunakan ntuk pembersihan,” bebernya.

Pemprov Jatim Gandeng Ahli Geologi ITS

lulusan termuda Jurusan Ekonomi Pembangunan di Jepang dari Ritsumeikan Asia Pacific University ini menerangkan saat ini material longsor masih tertahan oleh dinding penahan jalan. Ia menekankan bahwa prioritas utama adalah mengosongkan area di balik dinding tersebut agar memiliki kapasitas tampung jika terjadi rontokan susulan dari atas tebing.

“Material ini sekarang tertahan di dinding. Ini harus dibersihkan dulu supaya dinding memiliki kapasitas untuk mengantisipasi adanya rontokan lagi yang terjadi dari sini,” jelasnya.

Untuk memastikan keamanan selama proses pengerjaan, pihak Pemerintah Provinsi telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur serta tim ahli dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Baca Juga :  Pembina Pagar Nusa Besuki Keluhkan Lemahnya Deteksi Dini-Komunikasi Polsek Terkait Konflik Silat

Emil mengungkapkan berdasarkan analisis awal tim geologi, ditemukan adanya mahkota longsor sepanjang 147 meter. Kondisi ini dinilai sangat berbahaya karena material yang mendominasi adalah batuan besar yang mudah rontok (luruh), ditambah kondisi tanah yang sudah jenuh air atau lembek.

“Kaki tebing kondisinya sudah jemik (red: becek/lembek), tanahnya sudah jenuh. Maka, kami meminta dilakukan kajian menggunakan teknologi LiDAR (Light Detection and Ranging),” jelasnya.

Teknologi LiDAR ini, menurut Emil, berfungsi untuk mendeteksi ketebalan top soil atau lapisan tanah atas. Semakin tebal lapisan tersebut, maka risiko terjadinya longsoran akan semakin tinggi. Namun, ia menambahkan bahwa tantangan di KM 16 bukan hanya tanah, melainkan karakter batuan yang mudah lepas secara tiba-tiba.

Langkah Darurat dan Perbaikan Permanen

Selain melakukan pembersihan manual, pemerintah juga menyiapkan langkah teknis untuk memperkuat struktur jalan yang terdampak. Emil menyampaikan bahwa pengerjaan fisik akan segera dimulai dengan mendatangkan material penguat.

“Pak Tommy (pihak terkait) besok sudah mulai mendatangkan pipa baja supaya area ini bisa diperbaiki dengan kuat. Sembari itu, material dibersihkan dan kondisi lapangan akan terus kita pantau dalam satu hingga dua hari ke depan,” tambah Emil.

Pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada saat melintasi jalur tersebut, mengingat cuaca ekstrem yang masih berpotensi memicu pergerakan tanah di titik-titik rawan sepanjang jalur Trenggalek-Ponorogo. (bahr/red)

Emil Dardak, longsor batu besar, Jalan Nasional Trenggalek-Ponorogo,

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button