KesehatanPeristiwa

Save the Children Indonesia Desak Percepatan Pemulihan Psikososial Anak di Bencana Sumatera

×

Save the Children Indonesia Desak Percepatan Pemulihan Psikososial Anak di Bencana Sumatera

Sebarkan artikel ini
ave the Children Indonesia Desak Percepatan Pemulihan Psikososial Anak di Bencana Sumatera
Save the Children Indonesia mengadakan diskusi media. (Tangkapan Layar)

Kediri, Mataraman.net –  Save the Children Indonesia menyoroti kondisi kritis pemulihan pascabencana di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Selain kerusakan infrastruktur yang masif, pemulihan kondisi psikososial anak-anak dan potensi konflik sosial di pengungsian menjadi tantangan.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Save the Children Indonesia, Daniel Rembeth mengungkapkan, kebutuhan mendesak saat ini adalah menciptakan rasa tenteram bagi para murid agar proses belajar tetap berjalan.

Menurutnya, bencana ini telah memukul daerah produktif dan memaksa warga mundur beberapa tahun ke belakang secara ekonomi dan kesejahteraan.

“Tantangan kita semua adalah masa pemulihan. Daerah yang tadinya sawah produktif kini berubah menjadi padang pasir, aliran sungai beralih, dan kebun-kebun hilang. Ini harus kita selesaikan dan bantu bersama,” ujar Daniel Rembeth dalam Diskusi Media, Rabu (14/1/2026).

Baca Juga :  Viral, TKW Suci Blak-blakan Soal Camat Pakel hingga Kades di Tulungagung

Daniel yang juga pernah menjabat sebagai Direktur di PwC dan CEO The Jakarta Post ini menambahkan, kondisi di tenda pengungsian sangat memprihatinkan. Ia menceritakan pengalamannya saat berada di dalam tenda darurat yang sirkulasi udaranya buruk, sehingga membuat sesak napas hanya dalam waktu 30 menit.

Ia juga memperingatkan adanya potensi gesekan sosial di area penampungan. Daniel mulai melihat adanya gejala gesekan antara pengungsi dari wilayah pegunungan dengan penduduk asli di daerah penampungan.

“Dalam tekanan tinggi, ‘sumbu’ emosi manusia menjadi pendek. Ini yang mesti kita bantu untuk menentramkan penduduk,” tuturnya.

Terkait sektor pendidikan, Daniel melaporkan kerusakan parah pada fasilitas sekolah. Di salah satu SD Negeri di daerah Tuka, lantai dasar bangunan sekolah praktis tertutup material bencana, sementara bangunan lama hancur. Akibatnya, ratusan siswa harus berdesakan menggunakan lantai dua yang tersisa.

Baca Juga :  Satlantas Polres Tulungagung Lakukan Penelusuran Pelaku Tabrak Lari Pesepeda hingga Meninggal

Secara ekologis, Daniel memaparkan bahwa sepanjang perjalanan dari Tarutung melalui Barus, terlihat banyak luka di pegunungan akibat hutan gundul dan longsor yang terpapas hingga ratusan meter.

“Bahwa selain pemulihan ekonomi, pemulihan psikologi sosial dan tantangan ekologis adalah prioritas utama,” ulasnya.

Daniel menyatakan Save the Children bertekad untuk terus berpartisipasi dalam mengembalikan kondisi sosial masyarakat agar mendekati normal. Ia juga meminta rekan-rekan media untuk terus memperbarui informasi mengenai bencana di Sumatera agar tidak terlupakan oleh publik.

“Kami siap memberikan data dan fakta lapangan bagi media. Ini adalah saudara sebangsa kita. Pemulihan ini tidak akan selesai dalam satu tahun, kemungkinan akan lebih panjang,” pungkas pengajar di Universitas Indonesia tersebut. (bahr/red)