Ratusan Warga Tulungagung Terima Sosialisasi Germas dari Anggota Komisi IX DPR RI Nurhadi, SPd, MH bersama – Kemenkes RI

Tulungagung, Mataraman.net – Ratusan warga Tulungagung berduyun-duyun antusias mengikuti sosialisasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) – Budaya Cek Kesehatan Gratis sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Tidak Menular. Kegiatan ini atas kerjasama Komisi IX DPR RI – Kemenkes Poltekkes Malang.
Kegiatan yang bertempat Hall Crown Victoria Hotel Tulungagung itu menghadirkan sejumlah narasumber. Salah satunya, Kepala Dinas Kesehatan Tulungagung, Desi Lusiana Wardani yang mengapresiasi kegiatan sosialisasi tersebut. Narasumber lainnya Anggota DPR RI Komisi IX Nurhadi, SPd, MH.
“Ini sangat bagus bagi saya karena saya langsung bertemu dengan ratusan orang orang secara langsung. Di tengah-tengah istilahnya kami sendiri justru tidak bisa mengumpulkan sekian banyak orang,” ujar Desi Lusiana Wardani, Selasa (3/3/2026).

Ia menambahkan Germas memiliki tema bermacam-macam. Pihaknya mengaku sudah sering melakukan sosialisasi dengan tema yang berbeda-beda. Kebetulan yang hari ini tadi adalah tentang cek kesehatan gratis.
“Sehingga sebisa mungkin saya itu selalu hadir sendiri. Kalau ada kesempatan untuk bertemu dengan masyarakat langsung,” bebernya.
Perempuan asli Kecamatan Bandung ini menambahkan Germas memiliki tema yang beragam. Namun, sosialisasi kali ini difokuskan pada pentingnya Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai langkah preventif menghadapi penyakit tidak menular.
Perempuan berkacamata ini mengungkapkan fakta bahwa capaian CKG di Kabupaten Tulungagung saat ini masih jauh dari target nasional. Dari target sebesar 46% dari total jumlah penduduk, realisasi di lapangan baru menyentuh angka 25%.
“Masih ada selisih sekitar 21% yang harus kita genjot. Target kita adalah sekitar 500 ribu jiwa dari total 1,1 juta penduduk Tulungagung. Oleh karena itu, program nasional ini harus kita dukung dan laksanakan sepenuhnya,” tegasnya.
Pihaknya berharap, melalui sosialisasi ini, masyarakat yang hadir dapat menjadi agen perubahan. Desi mengimbau agar mulai esok hari, warga bersedia mendatangi Puskesmas untuk melakukan pemeriksaan secara mandiri serta mengajak keluarga maupun tetangga sekitar.
Menghapus Stigma Takut Periksa
Dalam sesi tanya jawab, terungkap bahwa salah satu hambatan utama rendahnya angka CKG adalah faktor psikologis masyarakat. Desi menyebutkan banyak warga yang merasa takut untuk memeriksakan diri karena khawatir mengetahui penyakit yang diidapnya.
“Stigma ini yang harus kita hilangkan. CKG justru berfungsi untuk deteksi dini. Jika ditemukan penyakit lebih awal, maka pengobatan dapat dilakukan secepat mungkin agar tidak bertambah parah,” jelas Desi menanggapi pertanyaan kritis dari peserta.
Guna mempermudah pelayanan, Dinas Kesehatan Tulungagung kini membuka akses CKG tidak hanya di Puskesmas, tetapi juga jemput bola ke kelompok masyarakat. Desi menjelaskan bahwa kelompok arisan atau organisasi keagamaan yang memiliki anggota 40 hingga 50 orang dapat mengajukan layanan pemeriksaan berkelompok.
“Prosedurnya cukup berkirim surat ke Dinas Kesehatan. Tujuannya bukan untuk mempersulit, melainkan agar kami dapat mendisposisikan petugas dari Puskesmas terdekat ke lokasi warga tersebut,” pungkasnya.
Pengamatan penulis, suasana berlangsung gayeng dan interaktif. Pasalnya, banyak peserta yang bertanya dengan pertanyaan yang kritis. Harapan besar masyarakat Tulungagung bisa semakin banyak yang teredukasi dengan adanya CKG. (bahr/red)



