Meriah, Festival Selawat se-Karesidenan Kediri Jadi Ajang Dakwah Kreatif di Tulungagung

Tulungagung, Mataraman.net – Festival Selawat Al-Habsyi se-Karisidenan Kediri berjalan meriah dan sukses di Halaman STAI Diponegoro Tulungagung. Seni selawat dinilai sebagai salah satu medium strategis dalam menyampaikan nilai-nilai Aswaja secara damai, moderat, dan membumi.
Kaprodi Pendidikan Agama Islam (PAI) STAI Diponegoro Tulungagung, Dr Kholid Thohiri menyampaikan, dakwah melalui seni Islam Al-Nahdliyyah mampu menjangkau ruang afektif generasi muda yang selama ini kurang tersentuh oleh pendekatan dakwah formal. Sehingga Dakwah Aswaja harus terus dihadirkan dengan pendekatan yang kreatif dan kontekstual.
“Seni selawat bukan sekadar ekspresi budaya, tetapi sarana efektif untuk menanamkan nilai tawassuth, tasamuh, dan tawazun kepada generasi Z,” terang Kholid Thohiri, Minggu (11/1/2026).

Menurutnya, festival selawat ini menampilkan berbagai kreativitas seni Islami khas Nahdlatul Ulama, yaitu hadrah yang mengkolaborasikan vokal shalawat dengan sentuhan musikal tradisi. Hal tersebut menjadikan kegiatan ini tidak hanya bernilai religius, tetapi juga edukatif dan kultural.
Ia mengaku terkesan dengan antusiasme masyarakat dan peserta yang sangat tinggi. Sejak dimulai pukul 13.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB, lokasi acara terus dipadati pengunjung, termasuk generasi muda atau Gen Z yang memiliki minat besar terhadap seni selawat.
“Selain peserta, ratusan pencinta selawat dari kalangan Gen Z turut memadati area kegiatan hingga ke halaman parkir kampus,” paparnya.
Menurutnya, fenomena ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (aswaja) masih sangat diminati oleh generasi milenial. Ia mengatakan, para peserta dan penonton dari luar daerah berbondong-bondong datang ke STAI Diponegoro Tulungagung karena kecintaan mereka terhadap seni selawat.
Festival kali ini mencatatkan sejarah baru bagi kampus tersebut. Kholid menerangkan ini merupakan pertama kalinya festival selawat diadakan di tingkat Keresidenan Kediri, setelah sebelumnya hanya rutin dilaksanakan di tingkat kabupaten.
“Ini merupakan perdana untuk tingkat Keresidenan Kediri. Sebelumnya kita juga mengadakan, tapi di tingkat kabupaten. Luar biasa antusiasme yang ada sampai malam hari ini,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, Prodi PAI STAI Diponegoro berkomitmen untuk terus menjaga nilai-nilai tradisi aswaja melalui sarana seni dan budaya Islam. Langkah ini dinilai sebagai strategi efektif untuk internalisasi nilai-nilai keislaman kepada mahasiswa dan masyarakat luas.
“Program studi PAI berupaya untuk menjaga nilai-nilai tradisi Ahlussunnah Waljamaah melalui seni dan budaya Islam Ahlussunnah wal Jama’ah. Ini bagian dari strategi internalisasi nilai-nilai Aswaja,” ulasnya.
Kholid menaruh harapan kegiatan tersebut dapat terus konsisten dilakukan karena selaras dengan visi, misi, serta keunggulan Prodi PAI STAI Diponegoro Tulungagung dalam mencetak generasi yang religius dan berbudaya.
Sebagai informasi kegiatan yang merupakan bagian dari agenda semarak Prodi PAI 2025/2026 tersebut diikuti oleh 25 tim dengan total 375 peserta. Yaitu berasal dari berbagai daerah, yakni Kabupaten/Kota Tulungagung, Trenggalek, Kediri, dan Blitar. (bahr/red)



