Kiai Jalaluddin Ingatkan Nahdliyyin Gunakan Sanad sebagai Fondasi Hadapi Era Digital

Tulungagung, Matraman.net – Dai Safari Ramadan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Besuki, Kiai Jalaluddin, menekankan pentingnya warga Nahdlatul Ulama (NU) untuk kembali mengkaji kitab Risalah Ahlussunnah Wal-Jama’ah karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Hal ini disampaikan sebagai upaya membentengi diri dari arus informasi agama yang tidak jelas sumbernya di media sosial.

Dalam ceramahnya, Kiai Jalaluddin menyampaikan, setiap perkumpulan, khususnya Nahdlatul Ulama, wajib memiliki misi dan tujuan yang jelas, yakni melestarikan (nguri-nguri) paham Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau menyebut bahwa kitab karya pendiri NU tersebut merupakan fondasi ideologi yang sangat krusial.

“Ibarat kita hidup di negara Indonesia, kitab Risalah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ini kedudukannya seperti Undang-Undang Dasar 1945. Jika dalam kehidupan berbangsa kita memiliki UUD, maka di dalam NU, ‘Undang-Undang Dasar’-nya adalah kitab tersebut,” ujar Kiai Jalaluddin di hadapan para jemaah, Kamis malam (12/3/2026).

Kiai Jalaluddin Ingatkan Nahdliyyin Gunakan Sanad sebagai Fondasi Hadapi Era Digital
Jamaah mendengarkan ceramah pengajian Safari Ramadan dengan santai. (and)

Beliau menjelaskan bahwa tanpa mengkaji kitab tersebut, warga NU akan mudah goyah atau terjebak dalam kekeliruan saat bertindak.

Kiai Jalaluddin kemudian mengutip hadis sahih riwayat Imam Muslim yang memperingatkan akan datangnya masa di mana orang-orang membicarakan hal-hal asing yang belum pernah didengar oleh generasi sebelumnya.

Baca Juga :  Ngopi Ngaji Bareng di Tanggulturus Punya Misi Hilangkan Buta Huruf Hijaiyah

Kiai Jalaluddin memaparkan bahwa istilah “orang tua” dalam konteks tersebut tidak hanya merujuk pada ayah kandung, tetapi juga guru-guru agama. Menurutnya, di akhir zaman akan banyak bermunculan “Dajjal” atau pendusta yang membawa dalil agama, namun dengan penafsiran yang jauh menyimpang dari ajaran para guru.

“Maksudnya, hadisnya mungkin benar, tetapi penafsirannya tidak sesuai dengan apa yang kita terima dari guru-guru kita. Jika hal itu muncul, itulah yang disebut sebagai Dajjal Kadzab atau pembohong besar. Terutama dalam masalah agama, kita diminta untuk sangat berhati-hati,” tegasnya.

Fenomena ini, lanjut beliau, sudah terjadi di masa sekarang melalui masifnya sebaran informasi di platform media sosial seperti TikTok, Facebook, dan YouTube. Ia memperingatkan bahwa banyak informasi instan saat ini yang diproduksi oleh kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), bukan oleh manusia atau ulama yang berkompeten.

Baca Juga :  Real Count Internal Gabah 51%, Gatut Sunu: Kami Rangkul Bersama untuk Membangun Tulungagung

Kiai Jalaluddin juga menyarankan adanya pelatihan khusus bagi para ustaz dan kiai yang aktif di dunia digital agar mampu membedakan informasi yang valid dengan informasi yang dihasilkan oleh robot.

Ia menegaskan bahwa memahami agama tidak boleh dilakukan secara mandiri hanya melalui mesin pencari di internet tanpa bimbingan guru yang memiliki sanad ilmu yang jelas.

“Kita tidak boleh mengambil ilmu dari orang yang bukan ahlinya. Belajarlah kepada guru yang memiliki guru, yang gurunya pun memiliki guru, hingga sanadnya bersambung kepada Rasulullah SAW,” tambah beliau.

Menutup ceramahnya, Kiai Jalaluddin mengajak warga NU untuk lebih fokus mempelajari ajaran organisasi daripada sekadar melihat perilaku individu di dalamnya.

Menurutnya, perilaku manusia bisa berubah-ubah dan beragam, namun ajaran asli yang tertuang dalam kitab-kitab muasis NU akan tetap menjadi pegangan yang selamat.

“Jika ingin menjadi warga NU yang benar, pelajarilah dasar-dasarnya. Sebab, yang harus kita pelajari adalah ajarannya, bukan sekadar orangnya,” pungkasnya. (bahr/red)

 

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button