Tulungagung, Mataraman.net – Gelaran olahraga lari lintas alam bertajuk Karneni Trail Run (KTR) sukses memukau 650 peserta yang memadati kawasan wisata alam Gunung Budeg, Tulungagung, Minggu (16/11/2025). Acara ini tidak hanya menjadi ajang menguji adrenalin, tetapi juga sarana memublikasikan potensi wisata alam di wilayah tersebut.
Karneni Trail Run (KTR) mengambil lokasi di kawasan wisata alam Gunung Budeg, Tulungagung, berhasil menarik 650 peserta dari berbagai daerah. Ini menjadi sarana efektif untuk memublikasikan potensi wisata alam, khususnya Gunung Budeg dan Bukit Lempar yang sedang naik daun.
Ketua Pelaksana Karneni Trail Run, Ardian Wahyu Diayanto, menyatakan pemilihan rute di Gunung Budeg didasari oleh keinginan untuk memperkenalkan lokasi wisata tersebut kepada khalayak yang lebih luas.
“Untuk event Karneni Trail Run ini, memilih rute di Gunung Budeg. Kita sekaligus untuk memublikasikan Gunung Budeg sebagai wisata alam yang sedang naik daun, terutama juga di Bukit Lempar,” ujar Ardian Wahyu Diayanto kepada penulis.

Obyek wisata di Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung ini diakuinya masih jarang dimanfaatkan untuk event lari trail, dibandingkan dengan lari jalan raya (road run).
Ia menekankan perbedaan signifikan antara kedua jenis lari tersebut, terutama dari segi kesulitan. Trail run pasti berbeda dengan road, seperti naik gunung, turun gunung, terus ada lumpur. Apalagi ini juga musim hujan, sehingga mungkin ada kelicinan di beberapa titik.
Namun demikian, Ardian bersyukur, cuaca hari pelaksanaan cukup kondusif. Tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan selama perjalanan hingga sampai garis finish.
“Alhamdulillah hari ini tidak hujan, jadi mungkin bisa lebih kondusif daripada hari-hari kemarin,” tambahnya.
Antusiasme masyarakat terhadap acara ini sangat tinggi. Ardian Wahyu Diayanto mengatakan bahwa kuota 650 peserta terpenuhi dalam waktu yang sangat singkat.
“Melihat antusiasme peserta, kita alhamdulillah sekali, 650 peserta itu kita terpenuhi dalam 10 hari. Jadi, mudah, cepat banget. Bahkan di media sosial, kita juga banyak sekali permintaan untuk menambah kuota, menambahnya lagi,” tuturnya.
Mengenai keberlanjutan acara, Ardian berharap event ini dapat dilanjutkan pada tahun depan, dengan catatan melihat tren minat masyarakat. Ia mengaku panitia akan mempertimbangkan untuk mengadakan kembali event serupa jika tren lari masih tetap tinggi di tahun mendatang.
“Harapannya, event-event seperti ini bisa dilanjutkan lagi tahun depan. Namun demikian, kita juga melihat tren. Ini tahun ini trennya, istilahnya, untuk ‘fomo’ lari. Kalau semisal tahun depan trennya masih bagus dan publikasi Rumah Sakit seperti kita, akan mempertimbangkan lagi untuk diadakan lagi,” kata Ardian.
“Tetapi, kalau semisal tahun depan tren ‘fomo’-nya sudah geser ke hal lain, mungkin kita harus mengikuti tren tersebut,” ulasnya.
Ardian juga menyinggung evaluasi dari acara serupa sebelumnya, yaitu Soekarno Trail Run yang diadakan pada bulan Juli. Saat itu, jumlah peserta melebihi 1.000 orang, yang menurut evaluasi panitia dan Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disbudpora) Tulungagung, dianggap terlalu banyak dan menyebabkan kepadatan (crowded) di area atas.
“Dulu Soekarno Trail Run bulan Juli kalau tidak salah. Di situ kita juga melakukan evaluasi-evaluasi ada 1.000 lebih peserta, itu oleh kita waktu koordinasi dengan Disbudpora Tulungagung terlalu banyak. Jadi, terlalu banyak di atas, crowded di atas. Akhirnya, kemarin kita batasi di 650, idealnya,” tutup Ardian.
Event ini merupakan yang paling akbar yang melibatkan masyarakat umum, selain acara internal rumah sakit pada 28 November 2025 mendatang. (bahr/red)







