Ekonomi dan BisnisTulungagung

Budi, Petani Lobster Air Tawar di Tulungagung Targetkan Penuhi Pasar Konsumsi

×

Budi, Petani Lobster Air Tawar di Tulungagung Targetkan Penuhi Pasar Konsumsi

Sebarkan artikel ini
Budi, Petani Lobster Air Tawar di Tulungagung Targetkan Penuhi Pasar Konsumsi
Tri Satrio, pembudidaya Lobster Air Tawar di Doroampel Tulungagung. (bahr)

Tulungagung, Mataraman.netLobster air tawar masih belum banyak digeluti oleh petani ikan. Alhasil, Budi Tri Satrio tertarik untuk mengembangkan lebih banyak hasil lobster untuk memenuhi kebutuhan pasar konsumsi.

Pria asal Desa Doroampel Kecamatan Sumbergempol Kabupaten Tulungagung ini sudah sejak 2021 memulai budidaya hewan dengan nama latin Redclaw crayfish (Cherax quadricarinatus). Lobster air tawar parastacid ini berasal dari Australia utara dan New Guinea Selatan.

Budi mengaku ide budidaya lobster ini tertarik karena minimnya biaya produksi khususnya pakan. Pakannya ini bisa dikatakan tidak mengeluarkan biaya tidak beli sama sekali.

“Jadi pakan dapat dari sampah dapur, sisa-sisa atau limbah peternakan, seperti ayam tiren. Kolam-kolam tetangga yang diisi lele patin biasanya banyak yang mati, saya angkut saya kasihkan lobster, itu menangnya disitu,” ujar Budi Tri Satrio di kolam mitranya, Kamis (6/11/2025).

Lobster Air Tawar milik petani Doroampel Tulungagung. (bahr)

Oleh sebab itu, Budi tertarik lobster air tawar dibandingkan dulu pernah memilihahara Ikan Gurame dan Lele yang notabene pengeluaran pakan sangat mahal, harus pakai pelet.

Pasalnya, ia pernah kejeblokan sampai 15 juta untuk ongkos pakan, sedangkan setelah panen, dihargai murah. Sementara untuk lobster ini pakan murah dan bisa menjual mahal.

Baca Juga :  Polres Tulungagung Amankan Perempuan yang Diduga Gelapkan Uang Rp165 Juta

“Semakin besar semakin mahal. Tidak seperti lele. Termasuk kalau dari hama hampir tidak ada kecuali maling, hehehe,” selorohnya.

Budi mengaku harga lobster per kilogram mulai Rp150 ribu untuk yang size kecil, dan size Grade A bisa sampai menembus Rp 200 ribu. Saat ini kebutuhan pasar sangat menanti, sebab ia oernah ditantang 3nkali oleh buyer untuk menyediakan kapasitas besar.

“Saya ditantang buyer dalam 2 minggu diminta 250 kilogram. Saya ya megap megap heheh, berarti saya harus menggandeng mitra,” ujarnya.

Pria yang pernah bekerja di salah satu stasiun televisi swasta di Kota Surabaya ini mengaku permintaan pasar tidak sampai terpenuhi. Selain mitra masih sedikit dan kemampuan dalam jumlah besar belum bisa.

Saat ini menggandeng mitra Smsudah berjalan 2 tahun, yang ia anggap kolamnya paling luas, dalam dua tahun hanya mampu bisa membesarkan ukuran sedang. Sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan pasar konsumsi.

“Mencapai ukuran konsumsi yang 1 kilogram bisa berisi 10 ekor itu sangat sulit. Karena minimnya pembudidaya,” ulasnya.

Baca Juga :  Gagal Terbang hingga Jarak Terlalu Mepet, Keluhan Peserta Festival Balon Tulungagung

Budi menerangkan masa panen dari kecil sampai besar ia jadwalkan per 6 bulan. Per 6 bulan lobster yang besar dan ada yang di dalam kolam banyak anak-anak dibesarkan kembali.

“Yang besar saya ambil, yang kecil pindah saya besarkan lagi. Kalau dibeli orang saya jual karena duit itu manis,” selorohnya.

Pria yang sering dimintai dokumentasi dan live streaming oleh Nahdlatul Ulama Kecamatan Sumbergempol ini memiliki harapan besar bisa mengembangkan lobster air tawar. Tidak hanya di Kabupaten Tulungagung, melainkan sampai se-Karisidenan Kediri.

“Minta tolong diselipkan cita-cita saya mengajak banyak petani ikan di wilayah Plat AG. Untuk berbudidaya lobster ini dalam rangka memenuhi pasar konsumsi,” ulasnya.

Pengamatan penulis di lokasi kolam milik mitra petani, tak jauh dari rumahnya ada beberapa kolam yang diisi oleh lobster air tawar. Saat lobster yang akan dipanen, bersembunyi dibalik genting dan bambu kecil-kecil yang dijejer untuk berlindung.

Sirkulasi air didukung oleh pompa yang menyala membuat kolam tampak bersih. Setiap satu kolam, memiliki satu aliran pipa untuk mengalirkan air bersih. (bahr/red)