Tulungagung, Mataraman.net – Ancaman radikalisme di era digital kini semakin memprihatinkan bagi generasi masa depan. Bukan lagi lewat pertemuan rahasia, paham ekstremis justru mulai bergerilya menyasar anak-anak dan kelompok rentan melalui layar ponsel di media sosial.
Peringatan keras ini disampaikan oleh Akademisi sekaligus Instruktur Nasional Penguatan Moderasi Beragama Kemenag RI, Dr M Kholid Thohiri. Dalam acara Evaluasi Program Moderasi Beragama di Tulungagung, ia membongkar bagaimana radikalisasi kini berubah bentuk menjadi konten-konten digital yang terlihat menarik bagi anak muda.

Menurut Kholid, penyebaran paham radikal saat ini tidak lagi bergantung pada struktur organisasi besar. Paham ini justru menyusup secara masif melalui narasi-narasi keagamaan yang dipelintir di platform digital.
“Pesan-pesan moderasi beragama tidak cukup jika hanya disampaikan di kelas secara konvensional. Saat ini ruang belajar anak-anak banyak berpindah ke ruang digital. Karena itu, moderasi beragama harus hadir dan aktif di platform media digital, termasuk media sosial,” jelas Kholid di Crown Victoria Hotel Tulungagung, Selasa (30/12/2025).
Modus Video Pendek dan Konten Visual
Pria yang juga menjabat sebagai Kaprodi PAI STAI Diponegoro Tulungagung ini menjelaskan, konten radikal seringkali disamarkan dalam bentuk video pendek, kutipan agama yang provokatif, hingga visual yang mudah dikonsumsi anak-anak. Jika tidak ada pendampingan, media sosial bisa menjadi ‘pintu masuk’ ideologi radikal sejak usia dini.
Kholid menilai, lembaga pendidikan harus segera berbenah. Ia menekankan pentingnya pengembangan kurikulum yang adaptif dan berbasis teknologi. Hilirisasi moderasi beragama harus masuk ke dalam konten kreatif dan literasi digital.
“Penguatan moderasi beragama harus terintegrasi dalam kurikulum dan didukung pemanfaatan media digital. Ini bukan sekadar inovasi, tetapi kebutuhan strategis agar nilai-nilai moderasi benar-benar membumi dan relevan dengan generasi digital,” paparnya
Keluarga Jadi Benteng Terakhir
Pria yang juga sebagai Direktur Puskab Tulungagung tersebut mengaku bukan hanya peran sekolah, melainkan juga peran keluarga adalah benteng pertama dan utama. Orang tua dituntut melek digital agar bisa mengawasi apa yang ditonton anak-anak mereka di media sosial.
Ia menyebutkan bahwa tanpa kesadaran literasi dari orang tua, anak-anak akan sangat mudah menelan mentah-mentah konten intoleran yang bertebaran di internet. Harapannya, sinergi antara pemerintah, sekolah, dan keluarga bisa memutus rantai radikalisme digital di Indonesia.
“Sehingga semakin kuat dalam menghadapi tantangan radikalisme di era digital, demi terwujudnya kehidupan beragama yang moderat, inklusif, dan berkeadaban di Indonesia,” harapnya.
Acara yang diinisiasi oleh UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung ini dihadiri oleh berbagai tokoh lintas agama, FKUB. Termasuk organisasi kepemudaan guna merumuskan strategi jitu menghadapi tantangan radikalisme di masa depan. (bahr/red)







