Blitar, Mataraman.net – Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Jawa Timur periode 2024-2029, KH Shalahuddin Fathurahman menegaskan, seluruh anggota Pagar Nusa adalah santri dari pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari. Hal tersebut disampaikan dalam acara pembaiatan anggota baru di wilayah Ponggok, Blitar.
Dalam arahannya, KH Shalahuddin menjelaskan, istilah yang digunakan dalam organisasi bukan lagi pengesahan, melainkan pembaiatan santri sesuai keputusan kongres.
“Identitas kita adalah santri. Seluruh anggota Pagar Nusa adalah santrinya Mbah Hasyim,” ujar KH Shalahuddin di hadapan para anggota baru, Minggu (28/12/2025).

Ditambahkannya, tiga komponen utama yang wajib melekat pada diri seorang santri Pagar Nusa. Pertama, santri harus bersungguh-sungguh menjalankan kewajiban fardu ain dan tidak mendahulukan perkara sunah di atas kewajiban utama. Kedua, setiap anggota wajib menjauhkan diri dari perbuatan maksiat, baik maksiat mata, tangan, maupun lisan.
“Ketiga adalah senantiasa mengedepankan etika, adab, dan budi pekerti kepada orang tua, guru, kiai, serta para ulama. Jangan hanya slogan bela kiai sampai mati, tetapi tidak memiliki sopan santun,” tegasnya.
KH Shalahuddin juga mengingatkan, sebagai pagarnya NU dan bangsa, santri Pagar Nusa memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Mengenai urusan organisasi, KH Shalahuddin menekankan pentingnya kepatuhan terhadap jalur struktural. Mengingat Pagar Nusa telah menjadi Badan Otonom (Banom) resmi NU, koordinasi antara tingkat ranting, anak cabang, hingga pengurus pusat harus berjalan harmonis.
Ia mengklaim, Pagar Nusa merupakan miniatur dari Nahdlatul Ulama karena sifat keanggotaannya yang sangat inklusif. Berbeda dengan Banom lain seperti Muslimat, Ansor, atau IPNU-IPPNU yang dibatasi oleh gender, usia, maupun tingkat pendidikan, Pagar Nusa terbuka bagi siapa saja.
“Pagar Nusa tidak mengenal batasan usia, gender, maupun latar belakang pendidikan. Hal ini sama persis dengan kondisi di Nahdlatul Ulama. Maka, jangan heran jika pemimpin masa depan lahir dari Pagar Nusa,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai jajaran Katib Syuriah PCNU Jombang tersebut.
Mengakhiri sambutannya, KH Shalahuddin berharap agar segala permasalahan yang muncul di internal organisasi selalu diselesaikan melalui duduk bersama dan musyawarah demi menjaga marwah organisasi.
“Karena sudah menjadi badan otonom besar prosedur administrasi harus kita ikuti bersama. Sebab ini menjadi penting jangan ada salah faham, permasalahan bisa diselesaikan duduk bersama dan musyawarah,” pungkasnya. (bahr/red)







