Tulungagung, Mataraman.net – Perhutani Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kediri bersama dengan masyarakat Desa Besole Tulungagung melakukan aksi penanaman serentak bibit pohon jati. Kegiatan ini bertujuan untuk mengembalikan fungsi konservasi hutan dan mencegah bencana alam di kawasan hutan.
Penanaman ini melibatkan sekitar 100 orang dari berbagai elemen masyarakat, yang terdiri atas Perhutani, Karang Taruna, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), dan petani penggarap (pesanggem).
Asisten Perhutani (Asper) Bandung, Tulungagung, Edi Purnomo, menjelaskan, jenis pohon yang dipilih memiliki nilai ekonomis dan fungsi konservasi yang tinggi.
“Kami menanam bibit jenis Jati atau Tectona grandis L.f. Selain memiliki nilai ekonomi yang tinggi, pohon jati dianggap tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem,” ujar Edi Purnomo, Senin (8/12/2025).

Menurutnya, pohon jati mampu bertahan terhadap genangan air saat musim hujan lebat, dan tahan terhadap kekeringan saat musim kemarau. Sehingga pihaknya memilih tanaman tersebut untuk dilakukan penanaman serentak.
“Jati lebih tahan terhadap cuaca yang tidak stabil, yaitu waktu hujan lebat tergenang air dan waktu kemarau tahan kekeringan,” ulasnya.
Ia menambahkan, pohon jati juga dapat berfungsi optimal sebagai konservasi tanah dan air di wilayah Petak 80c-1 RPH Besuki Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Bandung.
Ia mengaku penanaman ini berupaya untuk penghijauan hutan, Perhutani menggandeng erat masyarakat setempat. Total 100 warga yang berpartisipasi dalam penanaman terdiri dari 5 orang perwakilan Perhutani, 15 orang dari Karang Taruna Desa Besole, 30 orang dari LMDH Besole
“Termasuk juga mengajak 50 orang pesanggem atau petani penggarap,” bebernya.
Pihak Perhutani menaruh harapan besar pada kegiatan penghijauan ini. Edi Purnomo berharap kawasan hutan, khususnya di Desa Besole, bisa kembali hijau dengan tanaman kehutanan. Target utamanya adalah fungsi mitigasi bencana.
“Harapannya, kawasan Hutan khususnya di Desa Besole bisa kembali hijau oleh tanaman kehutanan sehingga bisa mencegah bahaya banjir waktu musim penghujan dan mencegah kekeringan musim kemarau,” tandas Edi. (bahr/red)







